SUBYEKTIVISME DAN OBYEKTIVISME
SUBYEKTIVISME
Subyektivisme merupakan pengetahuan yang dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh individu. Dari pangkal pandangan individu,
pengetahuan dipahami sebagai seperangkat keyakinan khusus yang dianut oleh para individu.
Pendukung pandangan ini adalah:
- Aristoteles, Plato, Rene Descartes
- Kaum Solipsisme (solo ipse)
- Kaum Realisme Epistemologis
- Kaum Idealisme Epistemologis
Ciri-ciri pendekatan Subyektivisme:
q M
enggagas pengetahuan se
ba
gai
suatu keada
an mental
yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa),misalnya sejarah, kepercayaan2
yg lain, dst.
q Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebagai titik tolak pengetahuan dari data
inderawi (intuisi) diri sendiri.
q Prinsip subyektif tentang alasan cukup,
karena pengalamanan bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena
berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.
DESCARTES:
Rene Descartes mengatakan Cogito ergo sum cogitan yang artinya saya
berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir. Ketika Descartes berbicara mengenai “berpikir”,
ia tidak bermaksud secara eksklusif pd penalaran saja, tetapi melihat,
mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk
dalam kegiatan “berpikir”.
• Realisme
Epistemologis:
berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari
diri saya.
• Idealisme
Epistemologis:
berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dlm suatu ide, yg
merupakan suatu peristiwa subyektif murni.
Banyak filsuf sesudah Descartes
mengandaikan bahwa satu-satunya hal yang dapat kita ketahui dengan pasti adalah
diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita. Pengetahuan tentang
diri sendiri merupakan pengetahuan langsung. Semua pengetahuan tentang sesuatu “yang bukan aku” atau “yang diluar diri sendiri” diragukan
kepastian kebenarannya. Pengetahuan tentang “yang bukan aku” merupakan pengetahuan tidak langsung.
Pertanyaannya adalah “Bagaimana orang dapat keluar dari pikirannya sendiri dan
mengetahui dunia obyektif di luar diri?” dan “Bagaimana kita ketahui apakah gagasan tentang obyek sesuai dengan obyeknya itu
sendiri dan bukan ilusi kita sendiri?”
Descartes menolak skeptisme
yang justru membawanya ke arah subyektivisme. Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tahu
tentang apapun. Menurut penganut skeptisisme mustahil manusia mencapai
pengetahuan tentang sesuatu, atau paling kurang manusia tidak pernah merasa yakin apakah dirinya dapat
mencapai pengetahuan tertentu. Skeptisisme meragu-ragukan kemungkinan bahwa
manusia bisa mengetahui sesuatu karena tidak ada bukti yang cukup bahwa
manusia benar-benar tahu tentang sesuatu.
Descartes adalah seorang rasionalis.
Baginya rasio atau pikiran adalah satu-satunya sumber dan jaminan kebenaran
pengetahuan. Descartes meragukan pengalaman inderawi dalam menjamin kebenaran
pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang dunia luar kita. Menurut Descartes
bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dapat saja secara langsung memunculkan data-data
indra dalam kesadaran kita tanpa harus
ada “dunia luar” yang mendasarinya. Indera dapat memberikan pengetahuan tentang dunia fisik yang dapat
dipercayai. Kebenaran bukan karena indera sendiri dapat diandalkan, tetapi
hanya berdasarkan keyakinan Tuhan yang menciptakan indera pada manusia yang tidak
mungkin menipu. Kenyataan bukti bagi keyakinan nalar akan adanya dunia luar
atau “yang bukan aku” tidak kurang meyakinkan dibandingkan bukti yang tersedia
bagi kenyataan adanya subyek “aku”. Keberadaan
atau pengetahuan mengenai “yang lain” atau “yang bukan diri sendiri” hanya
dapat disimpulkan secara tidak langsung dari kebenaran dan pengetahuan mengenai
diri sendiri.
Keberadaan sesuatu di luar diri
atau “yang bukan aku” dalam pengalaman sehari-hari misalnya menjadi jelas dari
gejala bahasa. Kenyataan
adanya bahasa selalu mengandaikan bahwa adanya pribadi atau subyek lain selain
dirinya sendiri. Bahasa sebagai saranan komunikasi untuk menjalin hubungan
dengan yang lain. Berkaitan dengan gejala bahasa bahwa melalui pengalaman
sehari-hari terjadinya dialog, yang mengandaikan adanya orang lain. Dalam keseluruhan
proses dialog keberadaan diandaikan adanya subyek lain atau “yang bukan aku”
atau dia yang menjadi lawan bicara aku. Orang tidak akan mempunyai kesadaran
eksplisit tentang dirinya sebagai individu selain melalui interaksi dengan
individu lain lain atau “yang bukan aku”. Kesadaran akan diri sendiri bukan
suatu intuisi langsung tentang diri dalam gagasan yang terpilah-pilah
sebagaimana yang dipahami Descartes. Kesadaran akan diri sendiri merupakan
hasil dari suatu proses bertahap melalui pengalaman pergulatan dengan dunia luar.
Kita mengenal keberadaan dunia di luar diri dari pengalaman berhadapan dan
berinteraksi dengannya. Aku bisa tahu bahwa orang lain yang menjadi lawan
bicara ku dalam dialog adalah pribadi seperti aku, karena dia mengungkapkan
perilaku sebagaimana aku berperilaku. Aku sadar dan kenal diriku justru dalam
kesadaran dan pengenalan yang bukan aku. Dalam kenyataan hidup diri sebagai
subyek yang bukan hanya berfungsi sebagai penahu (knower), tetapi juga
sebagai pelaku (agen) tidak bisa mengandaikan adanya “yang lain” baik
sebagai obyek pengetahuan dan kegiatannya maupun sebagai sesama subyek dalam
dialog. Apabila paham subyektivisme
hanya mau dikatakan tentang pentingnya peran subyek atau sisi subyektivitas
pengetahuan, maka paham ini masih dapat diterima. Apabila mengklaim bahwa
sesungguhnya ada dan dapat diketahui dengan pasti itu hanyalah subyek dan
gagasannya, sedangkan semuanya yang lain baik adanya maupun dapat diketahui
perlu diragukan, maka paham subyektivisme tersebut tidak dapat diterima. Demikian
juga paham bahwa semua jenis pengatahuan itu selalu bersifat subyektif atau
tidak memiliki kebenaran obyektif, paham semacam itu dalam epistemogi pantas di
tolak.
OBYEKTIVISME
Obyektivisme
adalah suatu pandangan yang menekankan
bahwa butir-butir pengetahuan manusia, mulai dari soal yang
sederhana sampai teori yang kompleks mempunyai sifat dan ciri yang melampaui (di
luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat). Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu
yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia.
• Pendukung pandangan ini adalah:
– Popper, Latatos dan Marx
Obyektivisme merupakan pandangan bahwa obyek yang kita
persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran
manusia. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada
objeknya. Objektivisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala
sesuatu yang dipahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
Ada 3 pandangan dasar
Objektivisme:
- Kebenaran itu independen terlepas
dari pandang subjektif.
- Kebenaran
itu datang dari bukti faktual.
- Kebenaran
hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Tiga pandangan ini sangat dekat dengan positivisme dan
empirisme.
Pengetahuan dalam pengertian Objektivis:
• sepenuhnya
independen dari klaim seseorang untuk mengetahuinya ;
• Pengetahuan itu terlepas dari
keyakinan seseorang atau kecenderungan untuk menyetujuinya atau memakainya untuk bertindak.
• Pengetahuan
dalam pengertian obyektivis
adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek.”
(Karl R. Popper)
Obyek itu bersifat “umum” dalam arti bahwa obyek yang
sama dapat dipersepsikan oleh
pengamat yang jumlahnya tidak terbatas. Obyek-obyek itu bersifat permanen, baik untuk dipersepsikan atau pun tidak. Obyek-obyek
memiliki kualitas-kualitas yang sama seperti yang disajikan kepada persepsi,
sehingga tindakan
persepsi tidak mengubah sedikit pun obyek. Para filsuf Skolastik mengangap perlu untuk
memperbaiki beberapa keyakinan harian kita, yaitu: meletakkan “kesalahan” pada indera, karena indera tidak pernah
salah.
Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, beberapa syarat harus dipenuhi:
a. Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita.
Warna-warna infra merah tidak cocok bagi indera kita.
b. Organ indera
harus normal dan sehat. Misalnya buta, tuli, atau buta warna. Tidak
dapat melakukan
penginderaan secara obyektif.
c. Karena obyek
ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada. Misalnya, warna
akan ditangkap idera dengan tepat apabila di bawah sinar matahari dari pada di
bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak foto.
Ada perbedaan antara obyek khusus dan obyek umum antara lain
sebagai berikut:
v Obyek
khusus merupakan data yang ditangkap hanya oleh satu indera. Misalnya, warna, suara,
bau.
v Obyek
umum merupakan data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera. Misalnya keluasan dan gerakan yang dapat
dilhat dan diraba atau oleh indera lainnya.
Keyakinan tidaklah selalu obyektif dalam hubungannya dengan kesadaran
pertimbangan, tetapi obyek-obyek konseptual benar-benar bersifat obyektif. Masalah
persepsi tetap merupakan masalah yang paling besar yang tidak terpecahkan di
dalam keseluruhan epistemologi.
KONFIRMASI
Konfirmasi adalah penegasan, memperkuat. Berhubungan dg
filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan,
memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/fakta. Sifatnya lebih interpretatif
dan memberi makna tentang sesuatu. Ada dua aspek konfirmasi yaitu kuantitatif
dan kualitatif.
Konfirmasi
Kuantitatif
Untuk
memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek
kuantitatif.
Misalnya
membuat penelitian dengan mengumpulkan sebanyak mungkin sampel, yg akhirnya
membuat suatu kesimpulan yg bersifat umum (generalisasi).
Ada
kalanya ilmu pengetahuan membutuhkan
konfirmasi kualitatif untuk menunjukkan kebenaran. Mungkin karena konfirmasi
kuantitatif tdk bs dilaksanakan, maka hrs menjalankan konfirmasi kualitatif.
Misalnya: dalam penelitian yang menjalankan model wawancara mendalam (depth
interview). Konfirmasi berupaya mencari hubungan yang normatif antara
hipotesis (kesimpulan sementara) yang sudah diambil dengan fakta-fakta
(evidensi). Mis. hipotesis: besi bila
dipanaskan akan memuai. Apakah hal ini sesuai dg fakta? Bila sesuai, maka
hipotesis meneguhkan (konfirmasi) ilmu pengetahuan tentang besi.
Tiga jenis konfirmasi:
(1) decision
theory: kepastian berdasarkan keputusan ‘apakah hubungan antara
hipotesis dengan fakta punya manfaat aktual’?
(2) estimation
theory: menetapkan kepastian dg memberi peluang benar-salah melalui
konsep probabilitas. Mis. statistik.
(3)reliability
theory: menetapkan kepastian dg mencermati stabilitas fakta/evidensi
yg berubah2 terhadap hipotesis.
Inferensi
Kata inferensi artinya
penyimpulan. Penyimpulan diartikan sebagai proses membuat kesimpulan (conclusion).
Dengan demikian, inferensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan
konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan). Inferensi (penyimpulan): bertolak dari pengetahuan
yang sudah dimiliki bergerak ke pengetahuan baru. Penyimpulan: bisa berupa
“mengakui” atau “memungkiri” suatu kesatuan antara dua pernyataan.
Jenis Inferensi
Di dalam logika, proses penarikan
konklusi dapat dilakukan melalui dua cara.
Yakni,
cara deduktif dan induktif. Mengingat dua cara tersebut kemudian dikenal
istilah inferensi deduktif dan inferensi induktif.
Inferensi
deduktif terbagi ke dalam dua jenis. Yakni, Inferensi Langsung dan Inferensi
Tidak Langsung. Inferensi Tidak Langsung disebut juga sebagai Inferensi
Silogistik.
Inferensi
Langsung
Inferensi Langsung ialah
penarikan kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis (pernyataan). Premis
adalah data, bukti, atau dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan.
Dengan demikian, kesimpulan adalah pernyataan yang dihasilkan sesuai dengan
premis-premis yang tersedia dan berhubungan secara logis dengan pernyataan
tersebut. Konklusi yang ditarik tidaklah boleh lebih luas dari premisnya.
Inferensi
Tidak Langsung
Inferensi tidak langsung adalah
penarikan kesimpulan (konklusi) dengan menggunakan dua premis. Konklusi
tidaklah lebih umum dari pada premis-premisnya. Premis-premis merupakan
proposisi-proposisi yang digunakan untuk membuat konklusi. Proposisi-proposisi
yang menjadi premis-premis dalam suatu silogisme disebut antesendens,
sedangkan proposisi yang menjadi konklusi disebut konsekuens. Predikat
konkluis disebut term mayor, sedangkan subyek konklusi disebut term
minor. Premis yang mengandung term mayor disebut premis mayor, sedangkan
premis yang mengandung term minor disebut premis minor.
Semua hewan akan mati (term
mayor)
|
Premis Mayor
|
|
Semua
karnivora adalah hewan (term minor)
|
Premis
Minor
|
|
Semua
karnivora akan mati
|
Konklusi
|
|
Hukum Inferensi:
- Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
- Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan
benar.
- Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga
salah.
- Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat
benar, tetapi dapat juga salah.
Konstruksi Teori
Defenisi: teori adalah model/kerangka
pikiran yang menjelaskan fenomena alami/sosial tertentu. Teori dirumuskan,
dikembangkan, dievaluasi menurut metode alamiah.
Defenisi lain:
KBBI ->teori adalah
pendapat yan
g
dikemukakan se
ba
gai
keterangan ten
tang
suatu peristiwa.
Miarso->teori
adalah ‘jendela’ utk mengamati gejala yang ada, dan berdasarkan data empiris
berhasil dianalisis dan disintesekan.
Dua Kutub Teori
Kutub
1: Teori sebagai hukum eksperimental.
Misalnya hukum Mendel tentag keturunan yg bisa langsung
diuji lewat observasi.
Kutub
2: Teori sebagai hukum yang berkualitas normal, seperti teori relativitasnya
Einstein.
Teori relativitas Einstein: Relativitas khusus menunjukkan
bahwa jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam (lamban atau sifat materi yg menentang atau menghambat
perubahan keadaan gerak benda materi itu) dan bergerak dengan kecepatan
sama relatif terhadap pengamat lain, maka kedua pengamat tersebut tidak dapat
melakukan percobaan untuk menentukan apakah mereka bergerak atau diam. Bayangkan
ini seperti saat Anda berada di dalam sebuah kapal selam yang bergerak dengan
kecepatan tetap. Anda tidak akan dapat mengatakan apakah kapal selam tengah
bergerak atau diam. Teori relativitas khusus disandarkan pada postulat (asumsi yg menjadi pangkal dalil yg
dianggap benar tanpa perlu membuktikannya; anggapan dasar; aksioma) bahwa
kecepatan cahaya akan sama terhadap semua pengamat yang berada dalam kerangka
acuan lembam.
Pengelompokan perkembangan ilmu
pengetahuan dalam 3 periode:
(1) Animisme: fase percaya pd mitos.
(2) Ilmu empiris: tolok ukur ilmu paling sederhana
adalah
(a) pengalaman.
(b) klasifikasi: prosedur paling
dasar utk mengubah data.
(c) penemuan hubungan-hubungan.
(d) perkiraan kabenaran.
(3) Ilmu teoretis: gejala yg ditemukan dlm ilmu
empiris diterangkan dg kerangka pemikiran.
Konstruksi teori dibangun
dengan:
(1) abstraksi
generalisasi.
(2) deduksi probabilistik dan deduksi apriori (spekulatif).
Model Konstruksi Teori
• Model korespondensi: kebenaran
sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
• Model koherensi: sesuatu
dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu. Mementingkan kesesuaian antara kebenaran obyektif
–rasional universal dan kebenaran moral/ nilai. Model ini digunakan dalam pendekatan fenomenologis.
• Model paradigmatis: Konsep
kebenaran ditata menurut pola hubungan
yang beragam, menyederhanakan yang
kompleks.
Aliran dalam Konstruksi Teori
Reduksionisme: teori itu suatu
pernyataan yg abstrak, tdk dpt diamati scr empiris, dan tdk dpt diuji langsung.
Instrumentalisme: teori adalah instrumen bagi pernyataan
observasi agar terarah dan terkonstruksi.
Realisme: teori dianggap benar bila
real, scr substantif ada, bukan fiktif.
CRITICAL THINKING
Definisi
Berpikir Kritis
·
Merasionalisasi
kehidupan
manusia dan secara hati-hati mengamati/ memeriksa proses berpikir
sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang
sesuatu (Chaffee,1990.)
·
Pemeriksaan/ pengamatan atas sesuatu asumsi tentang bukti terbaru
dan mengintepretasikan dan mengevaluasi argumen dalam rangka menegakkan
kesimpulan atas suatu perspektif baru (Strader,1992.
Karakteristik
Berpikir Kritis
1. Rasional, Reasonable, Reflektif
Berdasarkan
alasan-alasan dan bukti-bukti bukan atas
dasar keinginan pribadi
Pemikir
kritis tidak “melompat pada kesimpulan” butuh waktu untuk mengkoleksi data, menimbang
fakta, dan memiikirkan permasalahan.
Contoh:
Jeany, memutuskan untuk menjadi psikologi setelah menonton
film yang menunjukkan psikologi sebagai seseorang yang menarik dan mengagumkan.
Sedangkan Asih, yang berpikir lebih kritis, menanyakan konselor tentang
pekerjaan yang tersedia sebagai seorang psikolog. Ia juga berbicara dengan beberapa
orang psikolog. Setelah memperoleh dan menimbang fakta-fakta, Asih memutuskan
untuk masuk fakultas psikologi.
2. Melibatkan Skepticism yang Sehat dan Konstruktif
Tidak
menerima atau menolak ide-ide, kecuali karena mengerti hal tersebut.
Menaati
peraturan setelah berpikir panjang dengan
mencari pemahaman, merasionalisasikannya, mengikuti yang masuk akal, dan
bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.
Contoh:
Ketika seorang salesmen mendesak bahwa sebuah model abocath
baru lebih baik daripada yang lama, Perawat Lia menanyakan :” Apa yang anda
maksud dengan ‘lebih baik’? Informasi apakah yang anda miliki untuk
menunjukkan/ membuktikan hal tersebut?”
3.Otonomi
Tidak
mudah dimanipulasi.
Berpikir
dengan pikiran sendiri, dibandingkan diarahkan oleh anggota grupnya.
Contoh:
Di keluarga Lin, tidak seorangpun berpendidikan tinggi.
Walaupun saudara perempuannya tidak mengerti mengapa Ia berupaya keras untuk
kuliah, Lin berkata:”Saya sudah memikirkannya, dan hal ini adalah yang ingin
saya lakukan. Saya percaya segala upaya saya akan berguna kelak.”
4.Kreatif
Menciptakan
ide-ide orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran-pemikiran dan konsep.
Contoh:
Perawat Linda mengingat sebuah lagu yang dinyanyikan ibunya
dulu disaat Ia merasa takut, dan dengan menyanyikan lagu itu, Ia mampu
menenangkan anak-anak yang dirawat RS.
5.Adil
Tidak
bisa atau berpihak.
Contoh:
Perawat Rita, Karu, perlu membuat untuk Liburan Natal dan
Tahun Baru sebelum berespon terhadap permintaan individual staf untuk libur. Ia
menanyakan pada stafnya untuk menyatakan pilihannya setelah Ia mampu menentukan
jumlah staf yang ia butuhkan untuk kedua liburan tersebut.
6.Dapat Dipercaya dan Dilakukan
Memutuskan
tindakan yang akan dilakukan.
Membuat
observasi yang dapat dipercaya.
Menegakkan
kesimpulan secara tepat.
Mengatasi
masalah dan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan tindakan.
Pemikir Kritis di Psikologi akan
mempraktekkan ketrampilan kognitif dalam :
Analisa
Aplikasi
standar
Diskriminasi
Pencarian
informasi
Pembuatan
alasan logis
Prediksi
Transformasi
pengetahuan
5 MODEL BERPIKIR KRITIS
T :
Total Recall
H : Habits
I : Inquiry
N : New ideas and Creativity
K : Knowing how you think
1. Total Recall

Total recall adalah engingat
fakta/ suatu kejadian serta mengingat dimana dan bagaimana menemukannya ketika
dibutuhkan. Atau bisa disebut jug kemampuan untuk mengakses pengetahuan dimana
pengetahuan merupakan sesuatu yang dipelajari dan disimpan dalam pikiran. Setiap
orang punya cluster pengetahuan yang berbeda-beda dalam pikirannya. Total
Recall seseorang tergantung pada memori/ ingatannya.
Memori → proses yang kompleks
◦
Jika anda selalu kesulitan dalam mengingat
sesuatu --- Jangan menyerah!
Ada
Berbagai cara untuk membantu kita mengingat sesuatu
Contoh cara mengingat:
Meletakkan
suatu fakta pada suatu pola tertentu
c/
T.H.I.N.K – pola untuk mengingat model
berpikir
5555068527
– (555) 506-8527
Coba
ingat kata2 ini:
mobil, kereta,
garpu, jeruk, piring, apel, sendok, pesawat, gelas, pisang, sepeda, semangka
2. Habits
(Kebiasaan)
Habits adalah pendekatan berpikir yang diulang2 dengan
sering .
Sesuatu
yang “dilakukan tanpa berpikir”.
Walaupun
bukan dilakukan tanpa dipikir, tetapi hal tersebut telah mendarah daging
sehingga terlihat seperti tidak disadari.
Membuat
seseorang melakukan sesuatu tanpa harus mencari metode baru.
3. Inquiry (Pencarian Informasi)
Pencarian informasi dilakukan
dengan cara memeriksa isu-isu secara mendalam dengan menanyakan hal-hal yang
terlihat nyata termasuk menggali dan
menanyakan segala sesuatu khususnya asumsi seseorang terhadap situasi tertentu.
Cara berpikir primer yang digunakan untuk menegakkan suatu kesimpulan. Walaupun
kesimpulan dapat dibuat tanpa inquiry, dengan inquiry hasil akan lebih baik dan
akurat. Sebagian besar situasi di praktek kep butuh inquiry. Jika ditegakkan
berbagai kesimpulan butuh inquiry untuk
dapat yang paling akurat.
4. New Ideas and Creativity
(Ide-ide Baru dan Kreatifitas)
·
Model
ini membuat seseorang berpikir melebihi buku sumber
- Kreatif >< Habits
- Seseorang yang kreatif
akan berkata:
o
“Let’s
try this new way”
o
Seseorang
yang habitualis akan berkata: “This is the way things have always been done”
5. Knowing How You Think
(Mengetahui apa yang anda pikirkan)
Mencoba menjadi seseorang yang
berbeda diantara sekumpulan orang yang ada.
Berpikir
tentang bagaimana seseorang berpikir.
METACOGNITION
: berada diantara proses mengetahui (tahu bagaimana anda berpikir ).
Schon
(1983): menyarankan penggunaan pendekatan refleksi (knowing how you think)
untuk kerja profesional yang sulit menemukan masalah dan solusinya dalam buku
sumber .
Ayoo kita mulai berpikir kritis mulai
sekarang...!!!
LOGIKA
Logika berasal dari bahasa Yunani , yaitu logikos berarti sesuatu yang diungkapkan/diutarakan lewat bahasa. Pertama sekali
digunakan istilah itu oleh Zeno dari Citium (334 – 262 seb.
M). Logika adalah cabang filsafat yang
mempelajari, menyusun, dan membahas asas-asas/aturan formal serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang
dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Secara singkat dapat dikatakan logika adalah ilmu pengetahuan
dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat). Ilmu pengetahuan adalah kumpulan
pengetahuan tentang pokok yang tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan
yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penjelasan seperti ini terjadi dengan menunjukkan sebab-musababnya. Logika juga
merupakan ilmu pengetahuan dalam arti ini. Lapangan ilmu pengetahuan ini ialah
azas-azas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat dan sehat. Agar dapat
berpikir lurus, tepat dan teratur, logika menyelidiki, merumuskan serta
menerapkan hukum-hukum yang harus ditepati. Logika bukanlah teori belaka.
Logika juga merupakan suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran
dalam praktek. Inilah sebabnya mengapa logika disebut filsafat yang
praktis.
OBYEK LOGIKA
• Objek
material logika adalah manusia itu sendiri.
• Objek
formal logika ialah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak
melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.
MANFAAT BELAJAR LOGIKA
- Membantu setiap orang untuk mampu berpikir
kritis, rasional, metodis.
- Kemampuan meningkatkan kemampuan
bernalar secara abstrak.
- Mampu berdiri lebih tajam dan
mandiri.
- Menambah kecerdasan berpikir, sehingga bisa menghindari kesesatan dan kekeliruan
dalam menarik kesimpulan.
SEJARAH
LOGIKA
Sebagai istilah logika pertama sekali digunakan oleh Zeno dengan aliran stoisismenya, tapi filsuf pertama yang menggunakan logika sebagai
ilmu adalah Aristoteles. Kendati istilah yang digunakan adalah analitika, tapi dialah yang pertama
sekali meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar. Prinsip logika tradisional yang dikembangkan Aristoteles tetap menjadi
prinsip-prinsip logika
modern. Logika tradisional membahas definisi, konsep dan term menurut struktur, susunan dan nuansa, seluk beluk
penalaran untuk mendapat
kebenaran yang sesuai dengan kenyataan.
MACAM-MACAM
LOGIKA
• Logika
kodrati: suatu suasana
saat akal budi bekerja menurut hukum logika secara spontan. Misalnya Saat kuliah seorang mahasiswa mendapat SMS dari
ibunya agar menjemput adik dari sekolah pukul 1 siang.
Mahasiswa tidak perlu bertanya mengapa harus menjemput karena dia yakin itu perintah ibunya.
• Logika
ilmiah: berusaha
mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teliti atau tepat, sehingga kesesatan dapat dihindari. Dipelajari berbagai aturan, hukum,
asas agar diperoleh pemikiran yang benar dan bisa dipertangungjawabkan secara rasional.
LOGIKA
FORMAL
Logika formal adalah logika yang
berbicara tentang kebenaran bentuk. Logika formal disebut juga logika minor. Sebuah
argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk, bila konklusinya kita tarik
secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang
terkandung dalam argumentasi tersebut. Yang harus diperhatikan di situ ialah
penyusunan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi premis atau dasar penyimpulan.
Kalau susunan premis tidak dapat dijadikan pangkal/dasar untuk menarik
kesimpulan yang logis.
Misalnya:
Semua pegawai negeri adalah
penerima gaji.
Semua pegawai swasta adalah
penerima gaji.
Jadi, pegawai negeri adalah
pegawai swasta.
Contoh diatas memperlihatkan susunan penalaran yang tidak
tepat dengan demikian penalaran tersebut tidak memiliki kebenaran bentuk.
Susunan penalaran yang tepat diketahui berdasarkan konklusinya yang ditarik
secara logis dari premis atau titik pangkalnya.
Misalnya:
Semua
manusia memiliki kaki.
Semua
raja adalah manusia.
Jadi,
semua raja memiliki kaki.
Susunan penalaran diatas adalah tepat sebab konklusinya
diturunkan secara logis dari titik pangkalnya. Dengan demikian kalau penalaran
yang tepat itu dikosongkan dari isinya dengan menghapus pengertian-pengertian
di dalamnya dan menggantinya dengan tanda-tanda huruf terdapatlah pola
penyusunan sebagai berikut:
• Semua
M adalah P.
• Semua
S adalah M.
• Jadi,
semua S adalah P.
Pola susunan penalaran itu
disebut bentuk penalaran. Penalaran dengan bentuk yang tepat disebut penalaran
yang tepat atau sahih (valid). Semua penalaran, apa pun isi atau maknanya, asal
bentuknya tepat, dapat dipastikan bahwa penalaran itu sahih. Jadi tanda-tanda
M, P, dan S dapat diganti dengan pengertian apa saja, asal susunan premis (yang
dijadikan dasar penyimpulan) tepat dan konklusi sungguh-sungguh ditarik secara
logis dari premis maka penalaran itu tepat/sahih.
•
Misalnya:
Malaikat
itu benda fisik.
Batu
itu malaikat.
Maka,
batu itu benda fisik.
Kalau kita sesuaikan dengan kenyataan, jelaslah bahwa isi
dari tiga pernyataan yang membentuk argumen di atas adalah salah (tidak sesuai
fakta). Namun argumen tersebut benar berdasarkan logika formal dari segi
bentuknya, karena kesimpulan sungguh ditarik dari premis atau titik pangkal
yang menjadi dasar penyimpulan tersebut. Bahwa isi dari kesimpulan tersebut
salah tidaklah disebabkan karena proses penarikan kesimpulan yang tidak tepat,
melainkan isi dari premis-premisnya sudah salah.
LOGIKA MATERI/ISI
Logika material adalah logika
yang membahas tentang kebenaran isi. Logika material disebut juga logika mayor.
Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran isi apabila pernyataan-pernyataan
yang membentuk argumen tersebut sesuai dengan kenyataan.
Misalnya:
• Semua
manusia memiliki kaki.
• budi
memiliki kaki
• Jadi,
budi adalah manusia.
Kalau kita sesuaikan dengan
kenyataan, jelaslah bahwa isi dari tiga pertanyaan yang membentuk argumen di
atas adalah benar (sesuai dengan kenyataan) dengan demikian argumen tersebut
memiliki kebenaran isi. Namun, kalau kita teliti lebih lanjut, argumen tersebut
sesungguhnya secara formal (menurut bentuknya) tidaklah sahih (valid). Karena
konklusi yang ditarik tidak diturunkan dari pernyataan-pertanyaan yang menjadi
titik pangkal pemikiran. Memang benar bahwa “Kucing adalah binatang” tetapi
pernyataan (kesimpulan) itu tidak dapat ditarik dari fakta bahwa “Semua
binatang adalah makhluk hidup” dan bahwa “Kucing adalah makhluk hidup”.
Argumen ilmiah mementingkan
struktur penalaran yang tepat atau sahih (valid) sekaligus isi atau maknanya
sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain, kebenaran suatu argumen dari segi
bentuk dan isi adalah prasyarat mutlak.
• Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
Misalnya :
Semua binatang menyusui memiliki sayap
Burung binatang menyusui
Jadi burung memilkki sayap
• Jika kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
Misalnya:
Semua kucing binatang mamali
Anjing adalah kucing
Jadi anjing adalah mamalia.
INDUKSI
Penalaran induksi adalah cara
kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atau
partikular tertentu untuk menarik kesimpulan yang umum tertentu. Dengan kata
lain, atas dasar fenomena, fakta atau data tertentu dirumuskan dalam proposisi
tunggal tertentu, ditarik kesimpulan yang dianggal sebagai benar dan berlaku
umum.
Perhatikan dan pelajari contoh
berikut ini:
Saya bertemu dengan seorang
bapak. Tak lama kemudian dia mendekatiku dan meminta sedekah (mengemis). Saya
perhatikan bapak tersebut mempunyai ciri-ciri tua, baju compang-camping, serta
badannya kotor dan bau. Di tempat lain, saya bertemu dengan seorang bapak lagi.
Ketika saya amat-amati ternyata ciri-cirinya sama dengan bapak yang pertama.
Pengalaman ini terjadi sampai tiga kali. Akhirnya, saya melihat seorang bapak
dengan ciri-ciri seperti di atas, yaitu tua, baju compang-camping, badan kotor
dan bau, maka saya langsung mengambil kesimpulan bahwa bapak tersebut pasti
seorang pengemis. Kesimpulan ini saya ambil karena saya menyimpulkan bahwa
semua orang dengan ciri-ciri tersebut pasti pengemis. Inilah cara berpikir
induksi.
Apabil melihat pada contoh
tersebut, di mana dimulai dengan mengkaji atau meneliti atau mengamati beberapa
fenomena dan mengumpulkan berbagai data yang kemudian dievaluasi untuk
melahirkan sebuah kesimpulan umum. Meskipun dengan cara penarikkan kesimpulan
melalui berpikir induksi dapat sah yang dianggap benar dan berlaku umum, namun
kebenaran kesimpulan itu, baik berupa hukum atau teori ilmiah harus dianggap bersifat
sementara. Kendati kita secara sah mendasarkan diri pada berbagai fakta
yang ada untuk menarik kesimpulan yang benar, namun ini tidak dengan sendirinya
menjamin bahwa kesimpulan itu benar secara mutlak. Hal ini disebabkan ciri
dasar berpikir induksi adalah selalu tidak lengkap. Dalam kegiatan
ilmiah, biasanya peneliti berkerja berdasarkan pengamatan dan data yang sangat
terbatas. Peneliti biasanya tidak mengumpulkan semua data yang relevan,
melainkan hanya beberapa data yang dianggap mewakili, karena data yang relevan
jumlahnya tidak terbatas. Di satu pihak penalaran induksi memiliki persamaan
dengan deduksi, yaitu kedua-duanya mendasari argumentasi-argumentasinya dari
premis-premis yang mendukung kesimpulan. Perbedaan mendasarnya, argumentasi
dalam penalaran induksi yang tepat akan mempunyai premis-premis yang benar,
namun kesimpulannya dapat salah. Hal ini disebabkan oleh
argumentasi-argumentasi dalam penalaran induksi yang tidak membuktikan bahwa
kesimpulan itu benar. Premis hanya menetapkan bahwa kesimpulan berisi suatu
kemungkinan, sebab premis hanya mengandung sebagain dari bukti atau data yang
dibutuhkan kesimpulan. Karena itu informasi atau data yang terdapat dalam
premis kurang memadai bila dibandingkan dengan informasi yang dibutuhkan
kesimpulan. Akibatnya, argumentasi-argumentasi yang terdapat dalam penalaran
induksi tidak dinilai sebagai valid (sahih) atau invalid (tidak
sahih), melainkan berdasarkan probabilitas. Kesimpulan dari argumentasi
induktif berupa pernyataan umum yang didasarkan pada premis-premis mengenai
sampel-sampel khusus. Dengan kata lain,
bentuk penalaran induksi didasarkan
pada sample dari banyak kasus individual. Karena itu, argumentasi
induksi akan menjadi lebih
kuat apabila jumlah
kasus individualnya meningkat (diperbanyak).
Ciri
Penalaran Induksi
- Premis-premis
dalam penalaran induksi merupakan proposisi empiris yang berhubungan
langsung dengan observasi indera. Indera menangkap dan akal menerima.
- Kesimpulan dalam penalaran
induksi lebih luas dari pada apa yang dinyatakan di dalam
premis-premisnya. Karena itu, pikiran tidak terikat untuk menerima
kebenaran kesimpulannya. Jadi menurut kaidah-kaidah logika penalaran ini
tidak sahih.
- Meskipun
kesimpulan induksi itu tidak mengikat, akan tetapi manusia yang normal
akan menerimanya, kesuali apabila ada alasan untuk menolaknya. Jadi dapat
dikatakan bahwa kesimpulan induksi itu memiliki kredibilitas rasional yang
disebut probabilitas.
Proses induksi dapat dibedakan
menjadi generasilasi induksi, analogi induktif dan hubungan sebab
akibat.
Generalisasi Induktif
Genaralisasi induktif merupakan
proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala atu sifat-sifat
tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai semua. Dapat dikatakan juga sebagai
bentuk penalaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat khusus atau
premis ditarik kesimpulan yang bersifat umum. Prinsipnya adalah “ apa yang terjadi
beberapa kali dapat diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi”. Kesimpulan
dalam generalisasi itu hanya suatu
harapan, kepercayaan, karena konklusi penalaran induktif tidak
mengandung nilai kebenaran yang pasti, akan tetapi hanya berupa suatu
probabilitas atau peluang.
Contoh:
Suatu kali
Budi pergi ke Bogor menggunakan travel dan berkenalana dengan seorang wanita.
Wanita tersebut memperkenalkan dirinya sebagai orang Sunda yang berasal dari
Ciawi. Sejak semula Budi mengamat-amati wanita tersebut dan mengakuinya secara
terus terang bahwa wanita tersebut cantik dan menarik. Beberapa hari kemudian,
dasar memang lagi mujur, Budi bertemu lagi dengan seorang wanita lain ketika
berada di Bandung dan berkenalan. Ketika Budi bertanya asal daerahnya dan
wanita tersebut mengatakan bahwa dirinya orang Sunda dari Ciawi. Pengalaman ini
terjadi sampai lima kali dan kebetulan perempuan yang dijumpai Paril dengan
ciri-ciri yang sama berasal dari Ciawi dan keturunan Sunda. Budi mengakui bahwa
semua wanita itu cantik dan menarik. Budi pun berkesimpulan bahwa “Semua wanita
Ciawi dan keturunan Sunda itu cantik dan menarik”.
Menarik kesimpulan seperti contoh
tersebut adalah melakukan generalisasi berdasarkan fakta-fakta tunggal yang
diamati atau dialami.
Syarat Generalisasi yang Harus Diperhatikan
- Generasilasi tidak terbatas
secara numerik. Artinya generalisasi tidak boleh terikat pada jumlah
tertentu.
- Generalisasi tidak terbatas
secara “spasio-temporal”. Artinya generalisasi tidak boleh terbatas
dalam ruang dan waktu. Jadi berlaku di mana saja dan kapan saja.
- Generalisasi harus dapat
dijadikan dasar pengandaian. Misalnya, ada fakta bahwa anak
SMA itu berbeda dengan mahasiswa. Apabila ditemukan fakta bahwa anak SMA
sering membolos, mencontek saat ujian, suka tawuran dan tidak dapat
diatur. Seandainya mahasiswa mempunyai sifat yang sama, maka dapat
disimpulkan bahwa mahasiswa itu sama dengan anak SMA.
Analogi
Induktif
Berbicara mengenai analogi adalah
berbicara mengenai dua hal yang berlainan dan dua hal yang berlainan tersebut dibandingkan. Dalam
melakukan pembandingan ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu Persamaan dan Perbedan. Apabila kita membandingkan dua orang hanya
melihat dari aspek persamaannya tanpa melihat perbedaan, maka timbullah analogi,
yaitu persamaan di antara dua hal yang berbeda. Analogi dalam penalaran adalah
analogi induktif artinya suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan
tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus lainnya yang memiliki
sifat-sifat esensial yang sama. Yang terpenting dalam analogi induktif
adalah apakah persamaan yang dipakai sebagai dasar kesimpulan sungguh-sungguh
merupakan ciri-ciri
esensial yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang
dikemukakan.Kesimpulan analogi induktif tidak bersifat universal melainkan
khusus, walau benar bahwa tidak mungkin kesimpulan yang khusus dalam analogi
itu terjadi kalao tidak berpikir bahwa hal itu terjadi dalam keseluruhan.
Prinsip dasar penalaran analogi
induktif adalah “Karena hal d analog dengan a, b, c, maka apa yang berlaku
bagi a, b, dan c dapat diharapkan berlaku juga untuk d.”
Perhatikan contoh:
Mangga I : kuning, besar, matang ternyata manis
Mangga II : kuning, besar, matang ternyata manis
Mangga III : kuning, besar,
matang ternyata manis
Mangga IV : kuning, besar, matang
Kesimpulannya : mangga ke IV
tentu manis juga.
Analogi induktif tidak hanya menunjukkan persamaan di
antara dua hal yang berbeda, tetapi juga menarik kesimpulan atas dasar persamaan. Berbeda
dengan generalisasi induktif, di mana kesimpulannya selalu berupa proposisi
universal, kesimpulan analogi induktif tidak selalu berupa proposisi universal,
melainkan tergantung dari subyek-subyek yang dibandingkan. Subyek-subyek itu
yang dapat bersifat individual, partikular maupun universal. Akan tetapi
sebagai penalaran induktif, konklusinya lebih luas dari premis-premis.
Faktor
Probalitas
Kebenaran kesimpulan dalam logika
induktif, baik itu generalisasi maupun analogi induktif bersifat tidak pasti. Hal ini dikarenakan
kebenarannya bersifat masih kemungkinan. Artinya kebenaran kesimpulan induksi
selalu terkait dengan tinggi rendahnya probabilitas. Probabilitas adalah
keadaan pengetahuan antara kepastian
dan kemungkinan. Misalnya, kesimpulan bahwa “semua manusia akan mati”
adalah kesimpulan yang pasti benar hanya jika menunjuk pada mereka yang telah
mati. Namun kesimpulan itu hanya memiliki probabilitas yang tinggi jika
menyangkut manusia yang masih hidup dan belum lahir. Kita tidak dapat
memastikan kepastian absolut apakah orang hidup sekarang tidak akan mati atau
orang yang akan lahir nanti tidak akan mati. Tinggi rendahnya probabilitas
kesimpulan induktif dipengaruhi beberapa faktor, di antara faktor fakta,faktor
analogi, faktor disanalogi dan faktor luas konklusi.
Faktor fakta berkenaan dengan prinsip “semakin
besar jumlah fakta yang dijadikan dasar penalaran induktif, akan semakin tinggi
pula probabilitas konklusinya, dan sebaliknya”. Fakta analogi berkenaan dengan prinsip “Semakin
besar jumlah faktor analogi di dalam premis, akan semakin rendah probabilitas
konklusinya dan sebaliknya. Yang dimaksud dalam hal ini adalah faktor kesamaan.
Fakta disanologi terkait
dengan prinsip “semkian besar faktor disanologi di dalam premis, akan
semakin tinggi probabilitas konklusinya dan sebaliknya”. Yang dimaksud
dengan faktor disanologi adalah faktor ketidaksamaan. Faktor luas konklusi terkait prinsip “Semakin
luas konklusinya, semakin rendah probabilitasnya dan sebaliknya”.
Kesesatan
Generalisasi/Analogi
Selain faktor-faktor obyektif
sebagaimana yang telah diungkapkan, tinggi rendahnya probabilitas suatu
penalaran juga dipengaruhi faktor-faktor subyektif. Faktor subyektif biasanya
muncul dalam penelaran seseorang yang keberadaannya tidak disadari. Namun
apabila seseorang akan menerima bahwa penyimpulannya tidak sesuai dengan
kaidah-kaidah penalaran jika ia dikritik serta dikorekasi. Ketidaksesuaian dengan
kaidah-kaidah penelaran akan membuat dan membawa manusia mengalamai kesesatan (fallacy).
Ada beberapa faktor yang
menyebabkan kesesatan dalam penalaran induktif, yaitu:
- Faktor
Tergesa-gesa
- Faktor
ceroboh
- Faktor
prasangka
Hubungan
Sebab Akibat
Prinsip umum hubungans ebab akibat menyatakan bahwa “suatu pristiwa disebabkan
oleh sesuatu”. Hubungan sebab akibat seringkali dikaitkan bahwa
keadaan yang terjadi disebabkan oleh keadaan atau kejadian lainnya. Kejadian
yang lainnya disebut sebab dan yang terjadi sebagai akibat. Hubungan sebab
akibat sebenarnya merupakan suatu hubungan yang intrinsik atau hubungan yang
asasi dalam pengertian hubungan yang sedemikian rupa sehingga apabila satu
(sebab) ada / tiada maka yang lain juga pasti ada / tiada. Hubungan sebab
akibat antara peristiwa-peristiwa dapat terjadi dalam tiga pola, yaitu:
Pola dari sebab ke akibat
Suatu hari saya pergi ke Mall
Taman Anggrek untuk membeli sepatu. Setelah berputar-putar mengeliling
berberapa toko sepatu. Ketika saya sampai di salah satu toko sepatu dan melihat merek serta modelnya, akhirnya
saya mendapatkan merek dan model sepatu sebagaimana yang saya idam-idamkan.
Setelah mencocokan nomor dan mencobanya, saya membawa sepatu tersebut ke kasir.
Ketika hendak membayar dan saya membuka tas, ternyata dompek saya sudah tidak
ada lagi. Saya telah kecopetan dan menyebabkan dompek dan sejumlah uang yang
ada untuk mebayar sepatu hilang. Anda kemudian menyimpulkan bahwa karena dompet
yang berisi uang itu hilang (sebab) maka anda tidak bisa membeli sepatu yang
diinginkan (akibat). Jadi “uang hilang” merupakan sebab dan “tidak jadi membeli
sepatu” merupakan akibat.
Pola dari akibat ke sebab
Suatu hari saya bersama
rekan-rekan hendak pergi ke pantai di Bandung. Karena mobil bis yang dicarter
sesak dengan penumpang, maka saya memilih menggunakan mobil pribadi di mana
saya bisa mengendrainya dengan santai dan tidak berhimpitan dengan lainnya.
Ketika dalam perjalanan mobil yang saya kendarai mengalami gangguan dan
akhirnya mogok. Mobil mogok adalah akibat dari sesuatu, dan sesuatu itu yang
menjadi sebabnya.
Pola dari akibat ke akibat.
Saya buru-buru pulang ke rumah
ketika dalam perjalanan perut saya mengalami mulas karena sudah saatnya jam
makan siang. Dalam perjalanan pulang tersebut saya melihat jalan becek. Saat
sampai di Rumah saya melihat sekitar halaman basah. Kemudian, saya teringat
pakain yang saya jemur di pagi hari. Saya langsung berpikir bahwa pakaian
tersebut pasti sudah basah. Pakaian menjadi basah bukan disebabkan jalanan
becek dan halaman rumah yang basah, melainkan karena hujan. Kedua gejala yang
terjadi tersebut, yaitu jalananan becek dan halaman rumah basah serta pakaian
yang dijemur basah sama-sama merupakan akibat dari penyebab yang tidak saya
pikirkan lagi, yaitu hujan yang turun.
Sumber:
Power Point dari dosen filsafat (Dr. Raja Oloan Tumanggor, Carolus
Suharyanto, Lic.Theol, Mikha Agus Widianto, M.Pd, Bonar Hutapea,
M.Si.Psi)
24 komentar:
Bagus deh banyak warnanya. Semangat terus yaa...!!
bagus, blognya jelas bngt, 89 yaa :)
Makasih teman-teman yang udah komen.
Lengkap dan kreatif banget binar! 90 yaaa:)
nice sharing! 87!:)
Makasih nia.
punya kamu juga kok ;)
wow lengkap abis ini blognya hahaha 86 ya :D
makasih egi, makasih jeany :)
Binar... semua posting2an nya binar bagus...... pertahankan yaaa kreativitasmu....... bahagia deh kalau bisa jadi seperti binar..... kreatif bangetttt..... semangat terus ya binar......... berbinar-binarlah selalu. Good luck
komentar tambahan yaaa....99 for you
Makasih santi. Blog kamu jga bagus bnget. Pnuh inspirasi
kereeen kereen hahahahaha nilai 85 buat kamu... smangat buat golden ticket wkwkwk
makasih ya piere :D
hi binar ^^ blog kamu cerah sekali hihi detail juga penjelasannya. 88 buat kamu ^^
Hai juga Angelica. makasih ya udah mampir :)
lucu deh nar tema dan susannya tulisannya juga lengkap dan juga bagus ada gambar-gambarnya heheh gue kasih nilai 89 ya
Keren bgt bin, salut lah!! hahahahaha 90 buat kite!
binarr lucu deh blognya , warna-warni kaya pelangi.. tulisannya jg lengkap 90 ya buat kamoehh
lengkap dan bagus banget binaar, gue kasih 90 yaa :D
bin bin.. bagus blognya..kreativ, tapi itu mousenya pusing banyak ekornyaa.. 90 buat binar..
postingannya bagus ada highlight di bagian pentingnya. contohnya juga sudah jelas. 90 ya
woow, nice binar... 90 yaaah :D
makasih ya valeenn blog kamu juga bagus bnget
Christina: iya dong tin buat kita semua :D
Rezky: makasih pujiannya :D
Arida: makasih ya... ;D
Elika: Mouse bnyak ekor gpp, cinta kita gak boleh wkwkwk
Maginda: Makasih ya maginda buat aku makin semangat
Fransisca: makasih ya fransica
Posting Komentar