RSS

Pertemuan ke 4



SUBYEKTIVISME DAN OBYEKTIVISME

SUBYEKTIVISME
Subyektivisme merupakan pengetahuan yang dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh individu. Dari pangkal pandangan individu, pengetahuan dipahami sebagai seperangkat keyakinan khusus yang dianut oleh para individu.
Pendukung pandangan ini adalah:
- Aristoteles, Plato, Rene Descartes
- Kaum Solipsisme (solo ipse)
- Kaum Realisme Epistemologis
- Kaum Idealisme Epistemologis
Ciri-ciri pendekatan Subyektivisme:
q  Menggagas pengetahuan sebagai suatu keada
an mental yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa),misalnya sejarah, kepercayaan2 yg lain, dst.
q  Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi (intuisi) diri sendiri.
q  Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalamanan bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.
DESCARTES:
Rene Descartes mengatakan Cogito ergo sum cogitan yang artinya  saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir. Ketika Descartes berbicara mengenai “berpikir”, ia tidak bermaksud secara eksklusif pd penalaran saja, tetapi melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk dalam kegiatan “berpikir”.
       Realisme Epistemologis: berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya.
       Idealisme Epistemologis: berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dlm suatu ide, yg merupakan suatu peristiwa subyektif murni.
Banyak filsuf sesudah Descartes mengandaikan bahwa satu-satunya hal yang dapat kita ketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita. Pengetahuan tentang diri sendiri merupakan pengetahuan langsung. Semua pengetahuan tentang  sesuatu “yang bukan aku” atau yang diluar diri sendiri diragukan kepastian kebenarannya. Pengetahuan tentang “yang bukan aku merupakan pengetahuan tidak langsung. Pertanyaannya adalah “Bagaimana orang dapat keluar dari pikirannya sendiri dan mengetahui dunia obyektif di luar diri?” dan “Bagaimana  kita ketahui apakah gagasan tentang obyek sesuai dengan obyeknya itu sendiri dan bukan ilusi kita sendiri?”
Descartes menolak skeptisme yang justru membawanya ke arah subyektivisme. Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tahu tentang apapun. Menurut penganut skeptisisme mustahil manusia mencapai pengetahuan tentang sesuatu, atau paling kurang manusia tidak pernah merasa yakin apakah dirinya dapat mencapai pengetahuan tertentu. Skeptisisme meragu-ragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu karena tidak ada bukti yang cukup bahwa manusia  benar-benar tahu tentang sesuatu. Descartes adalah seorang rasionalis. Baginya rasio atau pikiran adalah satu-satunya sumber dan jaminan kebenaran pengetahuan. Descartes meragukan pengalaman inderawi dalam menjamin kebenaran pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang dunia luar kita. Menurut Descartes bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dapat saja secara langsung memunculkan data-data indra  dalam kesadaran kita tanpa harus ada “dunia luar” yang mendasarinya. Indera dapat memberikan pengetahuan tentang dunia fisik yang dapat dipercayai. Kebenaran bukan karena indera sendiri dapat diandalkan, tetapi hanya berdasarkan keyakinan Tuhan yang menciptakan indera pada manusia yang tidak mungkin menipu. Kenyataan bukti bagi keyakinan nalar akan adanya dunia luar atau “yang bukan aku” tidak kurang meyakinkan dibandingkan bukti yang tersedia bagi kenyataan adanya subyek  “aku”. Keberadaan atau pengetahuan mengenai “yang lain” atau “yang bukan diri sendiri” hanya dapat disimpulkan secara tidak langsung dari kebenaran dan pengetahuan mengenai diri sendiri.
Keberadaan sesuatu di luar diri atau “yang bukan aku” dalam pengalaman sehari-hari misalnya menjadi jelas dari gejala bahasa. Kenyataan adanya bahasa selalu mengandaikan bahwa adanya pribadi atau subyek lain selain dirinya sendiri. Bahasa sebagai saranan komunikasi untuk menjalin hubungan dengan yang lain. Berkaitan dengan gejala bahasa bahwa melalui pengalaman sehari-hari terjadinya dialog, yang mengandaikan adanya orang lain. Dalam keseluruhan proses dialog keberadaan diandaikan adanya subyek lain atau “yang bukan aku” atau dia yang menjadi lawan bicara aku. Orang tidak akan mempunyai kesadaran eksplisit tentang dirinya sebagai individu selain melalui interaksi dengan individu lain lain atau “yang bukan aku”. Kesadaran akan diri sendiri bukan suatu intuisi langsung tentang diri dalam gagasan yang terpilah-pilah sebagaimana yang dipahami Descartes. Kesadaran akan diri sendiri merupakan hasil dari suatu proses bertahap melalui pengalaman pergulatan dengan dunia luar. Kita mengenal keberadaan dunia di luar diri dari pengalaman berhadapan dan berinteraksi dengannya. Aku bisa tahu bahwa orang lain yang menjadi lawan bicara ku dalam dialog adalah pribadi seperti aku, karena dia mengungkapkan perilaku sebagaimana aku berperilaku. Aku sadar dan kenal diriku justru dalam kesadaran dan pengenalan yang bukan aku. Dalam kenyataan hidup diri sebagai subyek yang bukan hanya berfungsi sebagai penahu (knower), tetapi juga sebagai pelaku (agen) tidak bisa mengandaikan adanya “yang lain” baik sebagai obyek pengetahuan dan kegiatannya maupun sebagai sesama subyek dalam dialog.  Apabila paham subyektivisme hanya mau dikatakan tentang pentingnya peran subyek atau sisi subyektivitas pengetahuan, maka paham ini masih dapat diterima. Apabila mengklaim bahwa sesungguhnya ada dan dapat diketahui dengan pasti itu hanyalah subyek dan gagasannya, sedangkan semuanya yang lain baik adanya maupun dapat diketahui perlu diragukan, maka paham subyektivisme tersebut tidak dapat diterima. Demikian juga paham bahwa semua jenis pengatahuan itu selalu bersifat subyektif atau tidak memiliki kebenaran obyektif, paham semacam itu dalam epistemogi pantas di tolak.
OBYEKTIVISME
                Obyektivisme adalah suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia, mulai dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks  mempunyai sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat). Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia.
       Pendukung pandangan ini adalah:
      Popper, Latatos dan Marx
Obyektivisme merupakan pandangan bahwa obyek yang kita persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. Objektivisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang dipahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
Ada 3 pandangan dasar Objektivisme:
  1. Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif.
  2. Kebenaran itu datang dari bukti faktual.
  3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Tiga pandangan ini sangat dekat dengan positivisme dan empirisme.
Pengetahuan dalam pengertian Objektivis:
       sepenuhnya independen dari klaim seseorang untuk mengetahuinya ;
       Pengetahuan itu terlepas dari keyakinan seseorang atau kecenderungan untuk menyetujuinya atau memakainya untuk bertindak.
       Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek.” (Karl R. Popper)
Obyek itu bersifat “umum” dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas. Obyek-obyek itu bersifat permanen, baik untuk dipersepsikan atau pun tidak. Obyek-obyek memiliki kualitas-kualitas yang sama seperti yang disajikan kepada persepsi, sehingga tindakan persepsi tidak mengubah sedikit pun obyek. Para filsuf Skolastik mengangap perlu untuk memperbaiki beberapa keyakinan harian kita, yaitu: meletakkan “kesalahan” pada indera, karena indera tidak pernah salah.
Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, beberapa syarat harus dipenuhi:
a. Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Warna-warna infra merah tidak cocok bagi indera kita.
b. Organ indera harus normal dan sehat. Misalnya buta, tuli, atau buta warna. Tidak dapat melakukan
 penginderaan secara obyektif.
c.  Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada. Misalnya, warna akan ditangkap idera dengan tepat apabila di bawah sinar matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak foto.
Ada perbedaan antara obyek khusus dan obyek umum antara lain sebagai berikut:
v  Obyek khusus merupakan data yang ditangkap hanya oleh satu indera. Misalnya, warna, suara, bau.
v  Obyek umum merupakan data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera. Misalnya keluasan dan gerakan yang dapat dilhat dan diraba atau oleh indera lainnya.
Keyakinan tidaklah selalu obyektif dalam hubungannya dengan kesadaran pertimbangan, tetapi obyek-obyek konseptual benar-benar bersifat obyektif. Masalah persepsi tetap merupakan masalah yang paling besar yang tidak terpecahkan di dalam keseluruhan epistemologi.


KONFIRMASI

Konfirmasi adalah penegasan, memperkuat. Berhubungan dg filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/fakta. Sifatnya lebih interpretatif dan memberi makna tentang sesuatu. Ada dua aspek konfirmasi yaitu kuantitatif dan kualitatif.
Konfirmasi Kuantitatif
  Untuk memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif.
  Misalnya membuat penelitian dengan mengumpulkan sebanyak mungkin sampel, yg akhirnya membuat suatu kesimpulan yg bersifat umum (generalisasi).
Ada kalanya  ilmu pengetahuan membutuhkan konfirmasi kualitatif untuk menunjukkan kebenaran. Mungkin karena konfirmasi kuantitatif tdk bs dilaksanakan, maka hrs menjalankan konfirmasi kualitatif. Misalnya: dalam penelitian yang menjalankan model wawancara mendalam (depth interview). Konfirmasi berupaya mencari hubungan yang normatif antara hipotesis (kesimpulan sementara) yang sudah diambil dengan fakta-fakta (evidensi).  Mis. hipotesis: besi bila dipanaskan akan memuai. Apakah hal ini sesuai dg fakta? Bila sesuai, maka hipotesis meneguhkan (konfirmasi) ilmu pengetahuan tentang besi.
Tiga jenis konfirmasi:
(1) decision theory: kepastian berdasarkan keputusan ‘apakah hubungan antara hipotesis dengan fakta punya manfaat aktual’?
(2) estimation theory: menetapkan kepastian dg memberi peluang benar-salah melalui konsep probabilitas. Mis. statistik.
(3)reliability theory: menetapkan kepastian dg mencermati stabilitas fakta/evidensi yg berubah2 terhadap hipotesis.
Inferensi
Kata inferensi artinya penyimpulan. Penyimpulan diartikan sebagai proses membuat kesimpulan (conclusion). Dengan demikian, inferensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan). Inferensi (penyimpulan): bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki bergerak ke pengetahuan baru. Penyimpulan: bisa berupa “mengakui” atau “memungkiri” suatu kesatuan antara dua pernyataan.
Jenis Inferensi
Di dalam logika, proses penarikan konklusi dapat dilakukan melalui dua cara.
  Yakni, cara deduktif dan induktif. Mengingat dua cara tersebut kemudian dikenal istilah inferensi deduktif dan inferensi induktif.
  Inferensi deduktif terbagi ke dalam dua jenis. Yakni, Inferensi Langsung dan Inferensi Tidak Langsung. Inferensi Tidak Langsung disebut juga sebagai Inferensi Silogistik.
Inferensi Langsung
Inferensi Langsung ialah penarikan kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis (pernyataan). Premis adalah data, bukti, atau dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan. Dengan demikian, kesimpulan adalah pernyataan yang dihasilkan sesuai dengan premis-premis yang tersedia dan berhubungan secara logis dengan pernyataan tersebut. Konklusi yang ditarik tidaklah boleh lebih luas dari premisnya.
Inferensi Tidak Langsung
Inferensi tidak langsung adalah penarikan kesimpulan (konklusi) dengan menggunakan dua premis. Konklusi tidaklah lebih umum dari pada premis-premisnya. Premis-premis merupakan proposisi-proposisi yang digunakan untuk membuat konklusi. Proposisi-proposisi yang menjadi premis-premis dalam suatu silogisme disebut antesendens, sedangkan proposisi yang menjadi konklusi disebut konsekuens. Predikat konkluis disebut term mayor, sedangkan subyek konklusi disebut term minor. Premis yang mengandung term mayor disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung term minor disebut premis minor.
Semua hewan akan mati (term mayor)
Premis Mayor

Semua karnivora adalah hewan (term minor)
Premis Minor

Semua karnivora akan mati
Konklusi

Hukum Inferensi:
  1. Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
  2. Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
  3. Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
  4. Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
Konstruksi Teori
Defenisi: teori adalah model/kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami/sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi menurut metode alamiah.
Defenisi lain:
*      KBBI ->teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan tentang suatu peristiwa.
*      Miarso->teori adalah ‘jendela’ utk mengamati gejala yang ada, dan berdasarkan data empiris berhasil  dianalisis dan disintesekan.

Dua Kutub Teori
  Kutub 1:  Teori sebagai hukum eksperimental.
Misalnya hukum Mendel tentag keturunan yg bisa langsung diuji lewat observasi.
  Kutub 2: Teori sebagai hukum yang berkualitas normal, seperti teori relativitasnya Einstein. 
Teori relativitas Einstein: Relativitas khusus menunjukkan bahwa jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam (lamban atau sifat materi yg menentang atau menghambat perubahan keadaan gerak benda materi itu) dan bergerak dengan kecepatan sama relatif terhadap pengamat lain, maka kedua pengamat tersebut tidak dapat melakukan percobaan untuk menentukan apakah mereka bergerak atau diam. Bayangkan ini seperti saat Anda berada di dalam sebuah kapal selam yang bergerak dengan kecepatan tetap. Anda tidak akan dapat mengatakan apakah kapal selam tengah bergerak atau diam. Teori relativitas khusus disandarkan pada  postulat (asumsi yg menjadi pangkal dalil yg dianggap benar tanpa perlu membuktikannya; anggapan dasar; aksioma) bahwa kecepatan cahaya akan sama terhadap semua pengamat yang berada dalam kerangka acuan lembam.
Pengelompokan perkembangan ilmu pengetahuan dalam 3 periode:
(1) Animisme: fase percaya pd mitos.
(2) Ilmu empiris: tolok ukur ilmu paling sederhana adalah
(a) pengalaman.
(b) klasifikasi: prosedur paling dasar utk mengubah data.
(c) penemuan hubungan-hubungan.
(d) perkiraan kabenaran.
(3) Ilmu teoretis: gejala yg ditemukan dlm ilmu empiris diterangkan dg kerangka pemikiran.
Konstruksi teori dibangun dengan:
 (1) abstraksi generalisasi.
(2) deduksi probabilistik dan deduksi apriori (spekulatif).
Model Konstruksi Teori
       Model korespondensi: kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
       Model koherensi: sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu. Mementingkan kesesuaian antara kebenaran obyektif –rasional universal dan kebenaran moral/ nilai. Model ini digunakan dalam pendekatan fenomenologis.
       Model paradigmatis: Konsep kebenaran ditata menurut pola  hubungan yang beragam, menyederhanakan yang kompleks.
Aliran dalam Konstruksi Teori
  Reduksionisme: teori itu suatu pernyataan yg abstrak, tdk dpt diamati scr empiris, dan tdk dpt diuji langsung.
  Instrumentalisme:  teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan terkonstruksi.
  Realisme: teori dianggap benar bila real, scr substantif ada,  bukan fiktif.

CRITICAL THINKING


Definisi Berpikir Kritis
·         Merasionalisasi kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati/ memeriksa proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu (Chaffee,1990.)
·         Pemeriksaan/ pengamatan atas sesuatu asumsi tentang bukti terbaru dan mengintepretasikan dan mengevaluasi argumen dalam rangka menegakkan kesimpulan atas suatu perspektif baru  (Strader,1992.
Karakteristik Berpikir Kritis
1. Rasional, Reasonable, Reflektif
  Berdasarkan alasan-alasan dan bukti-bukti  bukan atas dasar keinginan pribadi
  Pemikir kritis tidak “melompat pada kesimpulan” butuh waktu untuk mengkoleksi data, menimbang fakta, dan memiikirkan permasalahan.
Contoh:
Jeany, memutuskan untuk menjadi psikologi setelah menonton film yang menunjukkan psikologi sebagai seseorang yang menarik dan mengagumkan. Sedangkan Asih, yang berpikir lebih kritis, menanyakan konselor tentang pekerjaan yang tersedia sebagai seorang psikolog. Ia juga berbicara dengan beberapa orang psikolog. Setelah memperoleh dan menimbang fakta-fakta, Asih memutuskan untuk masuk fakultas psikologi.
2. Melibatkan Skepticism yang Sehat dan Konstruktif
  Tidak menerima atau menolak ide-ide, kecuali karena mengerti hal tersebut.
  Menaati peraturan setelah berpikir panjang  dengan mencari pemahaman, merasionalisasikannya, mengikuti yang masuk akal, dan bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.
Contoh:
Ketika seorang salesmen mendesak bahwa sebuah model abocath baru lebih baik daripada yang lama, Perawat Lia menanyakan :” Apa yang anda maksud dengan ‘lebih baik’? Informasi apakah yang anda miliki untuk menunjukkan/ membuktikan hal tersebut?”
3.Otonomi
  Tidak mudah dimanipulasi.
  Berpikir dengan pikiran sendiri, dibandingkan diarahkan oleh anggota grupnya.
Contoh:
Di keluarga Lin, tidak seorangpun berpendidikan tinggi. Walaupun saudara perempuannya tidak mengerti mengapa Ia berupaya keras untuk kuliah, Lin berkata:”Saya sudah memikirkannya, dan hal ini adalah yang ingin saya lakukan. Saya percaya segala upaya saya akan berguna kelak.”
4.Kreatif
  Menciptakan ide-ide orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran-pemikiran dan konsep.
Contoh:
Perawat Linda mengingat sebuah lagu yang dinyanyikan ibunya dulu disaat Ia merasa takut, dan dengan menyanyikan lagu itu, Ia mampu menenangkan anak-anak yang dirawat RS.
5.Adil
  Tidak bisa atau berpihak.
Contoh:
Perawat Rita, Karu, perlu membuat untuk Liburan Natal dan Tahun Baru sebelum berespon terhadap permintaan individual staf untuk libur. Ia menanyakan pada stafnya untuk menyatakan pilihannya setelah Ia mampu menentukan jumlah staf yang ia butuhkan untuk kedua liburan tersebut.
6.Dapat Dipercaya dan Dilakukan
  Memutuskan tindakan yang akan dilakukan.
  Membuat observasi yang dapat dipercaya.
  Menegakkan kesimpulan secara tepat.
  Mengatasi masalah dan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan tindakan.
Pemikir Kritis di Psikologi akan mempraktekkan ketrampilan kognitif dalam :
   Analisa
  Aplikasi standar
  Diskriminasi
  Pencarian informasi
  Pembuatan alasan logis
  Prediksi
  Transformasi pengetahuan
5 MODEL BERPIKIR KRITIS
 T              : Total Recall
                         H             : Habits
                         I               : Inquiry
                         N             : New ideas and Creativity
                         K             : Knowing how you think
1. Total Recall
j0285410Total recall adalah engingat fakta/ suatu kejadian serta mengingat dimana dan bagaimana menemukannya ketika dibutuhkan. Atau bisa disebut jug kemampuan untuk mengakses pengetahuan dimana pengetahuan merupakan sesuatu yang dipelajari dan disimpan dalam pikiran. Setiap orang punya cluster pengetahuan yang berbeda-beda dalam pikirannya. Total Recall seseorang tergantung pada memori/ ingatannya.
Memori → proses yang kompleks
       Jika anda selalu kesulitan dalam mengingat sesuatu  --- Jangan menyerah!
                Ada Berbagai cara untuk membantu kita mengingat sesuatu
Contoh cara mengingat:
  Meletakkan suatu fakta pada suatu pola tertentu
                c/ T.H.I.N.K – pola untuk mengingat        model berpikir
                                5555068527 – (555) 506-8527
                                Coba ingat kata2 ini:
   mobil, kereta, garpu, jeruk, piring, apel, sendok, pesawat, gelas,           pisang, sepeda, semangka


 












2. Habits (Kebiasaan)
Habits adalah pendekatan berpikir yang diulang2 dengan sering .
  Sesuatu yang “dilakukan tanpa berpikir”.
  Walaupun bukan dilakukan tanpa dipikir, tetapi hal tersebut telah mendarah daging sehingga terlihat seperti tidak disadari.
  Membuat seseorang melakukan sesuatu tanpa harus mencari metode baru.
3. Inquiry (Pencarian Informasi)
Pencarian informasi dilakukan dengan cara memeriksa isu-isu secara mendalam dengan menanyakan hal-hal yang terlihat nyata  termasuk menggali dan menanyakan segala sesuatu khususnya asumsi seseorang terhadap situasi tertentu. Cara berpikir primer yang digunakan untuk menegakkan suatu kesimpulan. Walaupun kesimpulan dapat dibuat tanpa inquiry, dengan inquiry hasil akan lebih baik dan akurat. Sebagian besar situasi di praktek kep butuh inquiry. Jika ditegakkan berbagai kesimpulan  butuh inquiry untuk dapat yang paling akurat.
4. New Ideas and Creativity (Ide-ide Baru dan Kreatifitas)
·         Model ini membuat seseorang berpikir melebihi buku sumber
  • Kreatif >< Habits
  • Seseorang yang kreatif akan berkata:
o   “Let’s try this new way”
o   Seseorang yang habitualis akan berkata: “This is the way things have always been done”

5. Knowing How You Think (Mengetahui apa yang anda pikirkan)
Mencoba menjadi seseorang yang berbeda diantara sekumpulan orang yang ada.
  Berpikir tentang bagaimana seseorang berpikir.
  METACOGNITION : berada diantara proses mengetahui (tahu bagaimana anda berpikir ).
  Schon (1983): menyarankan penggunaan pendekatan refleksi (knowing how you think) untuk kerja profesional yang sulit menemukan masalah dan solusinya dalam buku sumber .

Ayoo kita mulai berpikir kritis mulai sekarang...!!! 

LOGIKA
Logika berasal dari bahasa Yunani , yaitu logikos berarti sesuatu yang diungkapkan/diutarakan lewat bahasa. Pertama sekali digunakan istilah itu oleh Zeno dari Citium (334 – 262 seb. M). Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari, menyusun, dan membahas asas-asas/aturan formal serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Secara singkat dapat dikatakan logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat). Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan tentang pokok yang tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penjelasan seperti ini terjadi dengan menunjukkan sebab-musababnya. Logika juga merupakan ilmu pengetahuan dalam arti ini. Lapangan ilmu pengetahuan ini ialah azas-azas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat dan sehat. Agar dapat berpikir lurus, tepat dan teratur, logika menyelidiki, merumuskan serta menerapkan hukum-hukum yang harus ditepati. Logika bukanlah teori belaka. Logika juga merupakan suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek. Inilah sebabnya mengapa logika disebut filsafat yang praktis.
OBYEK LOGIKA
       Objek material logika adalah manusia itu sendiri.
       Objek formal logika ialah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.
MANFAAT BELAJAR LOGIKA
  1. Membantu setiap  orang untuk mampu berpikir kritis, rasional, metodis.
  2. Kemampuan meningkatkan kemampuan bernalar secara abstrak.
  3. Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri.
  4. Menambah kecerdasan berpikir, sehingga bisa menghindari kesesatan dan kekeliruan dalam menarik kesimpulan.
SEJARAH LOGIKA
Sebagai istilah logika pertama sekali digunakan oleh Zeno dengan aliran stoisismenya, tapi filsuf pertama yang menggunakan logika sebagai ilmu adalah Aristoteles. Kendati istilah yang digunakan adalah analitika, tapi dialah yang pertama sekali meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar. Prinsip logika tradisional yang dikembangkan Aristoteles tetap menjadi prinsip-prinsip logika modern. Logika tradisional membahas definisi, konsep dan term menurut struktur, susunan dan nuansa, seluk beluk penalaran untuk mendapat kebenaran yang sesuai dengan kenyataan.
MACAM-MACAM LOGIKA
       Logika kodrati: suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika secara spontan. Misalnya Saat kuliah seorang mahasiswa mendapat SMS dari ibunya agar menjemput adik dari sekolah pukul 1 siang. Mahasiswa tidak perlu bertanya mengapa harus menjemput karena dia yakin itu perintah ibunya.
       Logika ilmiah: berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teliti atau tepat, sehingga kesesatan dapat dihindari. Dipelajari berbagai aturan, hukum, asas agar diperoleh pemikiran yang benar dan bisa dipertangungjawabkan secara rasional.
LOGIKA FORMAL
Logika formal adalah logika yang berbicara tentang kebenaran bentuk. Logika formal disebut juga logika minor. Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk, bila konklusinya kita tarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumentasi tersebut. Yang harus diperhatikan di situ ialah penyusunan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi premis atau dasar penyimpulan. Kalau susunan premis tidak dapat dijadikan pangkal/dasar untuk menarik kesimpulan yang logis.
Misalnya:
Semua pegawai negeri adalah penerima gaji.
Semua pegawai swasta adalah penerima gaji.
Jadi, pegawai negeri adalah pegawai swasta.
Contoh diatas memperlihatkan susunan penalaran yang tidak tepat dengan demikian penalaran tersebut tidak memiliki kebenaran bentuk. Susunan penalaran yang tepat diketahui berdasarkan konklusinya yang ditarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya.
Misalnya:
                Semua manusia memiliki kaki.
                Semua raja adalah manusia.
                Jadi, semua raja memiliki kaki.
Susunan penalaran diatas adalah tepat sebab konklusinya diturunkan secara logis dari titik pangkalnya. Dengan demikian kalau penalaran yang tepat itu dikosongkan dari isinya dengan menghapus pengertian-pengertian di dalamnya dan menggantinya dengan tanda-tanda huruf terdapatlah pola penyusunan sebagai berikut:
       Semua M adalah P.
       Semua S adalah M.
       Jadi, semua S adalah P.
Pola susunan penalaran itu disebut bentuk penalaran. Penalaran dengan bentuk yang tepat disebut penalaran yang tepat atau sahih (valid). Semua penalaran, apa pun isi atau maknanya, asal bentuknya tepat, dapat dipastikan bahwa penalaran itu sahih. Jadi tanda-tanda M, P, dan S dapat diganti dengan pengertian apa saja, asal susunan premis (yang dijadikan dasar penyimpulan) tepat dan konklusi sungguh-sungguh ditarik secara logis dari premis maka penalaran itu tepat/sahih.
       Misalnya:
        Malaikat itu benda fisik.
        Batu itu malaikat.
        Maka, batu itu benda fisik.
Kalau kita sesuaikan dengan kenyataan, jelaslah bahwa isi dari tiga pernyataan yang membentuk argumen di atas adalah salah (tidak sesuai fakta). Namun argumen tersebut benar berdasarkan logika formal dari segi bentuknya, karena kesimpulan sungguh ditarik dari premis atau titik pangkal yang menjadi dasar penyimpulan tersebut. Bahwa isi dari kesimpulan tersebut salah tidaklah disebabkan karena proses penarikan kesimpulan yang tidak tepat, melainkan isi dari premis-premisnya sudah salah.
LOGIKA MATERI/ISI
Logika material adalah logika yang membahas tentang kebenaran isi. Logika material disebut juga logika mayor. Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran isi apabila pernyataan-pernyataan yang membentuk argumen tersebut sesuai dengan kenyataan.
Misalnya:
       Semua manusia memiliki kaki.
       budi memiliki kaki
       Jadi, budi adalah manusia.
Kalau kita sesuaikan dengan kenyataan, jelaslah bahwa isi dari tiga pertanyaan yang membentuk argumen di atas adalah benar (sesuai dengan kenyataan) dengan demikian argumen tersebut memiliki kebenaran isi. Namun, kalau kita teliti lebih lanjut, argumen tersebut sesungguhnya secara formal (menurut bentuknya) tidaklah sahih (valid). Karena konklusi yang ditarik tidak diturunkan dari pernyataan-pertanyaan yang menjadi titik pangkal pemikiran. Memang benar bahwa “Kucing adalah binatang” tetapi pernyataan (kesimpulan) itu tidak dapat ditarik dari fakta bahwa “Semua binatang adalah makhluk hidup” dan bahwa “Kucing adalah makhluk hidup”.
Argumen ilmiah mementingkan struktur penalaran yang tepat atau sahih (valid) sekaligus isi atau maknanya sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain, kebenaran suatu argumen dari segi bentuk dan isi adalah prasyarat mutlak.
       Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
Misalnya :
Semua binatang menyusui memiliki sayap
Burung binatang menyusui
Jadi burung memilkki sayap
       Jika kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
Misalnya:
Semua kucing binatang mamali
Anjing adalah kucing
Jadi anjing adalah mamalia. 
 INDUKSI

Penalaran induksi adalah cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atau partikular tertentu untuk menarik kesimpulan yang umum tertentu. Dengan kata lain, atas dasar fenomena, fakta atau data tertentu dirumuskan dalam proposisi tunggal tertentu, ditarik kesimpulan yang dianggal sebagai benar dan berlaku umum.
ž  Perhatikan dan pelajari contoh berikut ini:
Saya bertemu dengan seorang bapak. Tak lama kemudian dia mendekatiku dan meminta sedekah (mengemis). Saya perhatikan bapak tersebut mempunyai ciri-ciri tua, baju compang-camping, serta badannya kotor dan bau. Di tempat lain, saya bertemu dengan seorang bapak lagi. Ketika saya amat-amati ternyata ciri-cirinya sama dengan bapak yang pertama. Pengalaman ini terjadi sampai tiga kali. Akhirnya, saya melihat seorang bapak dengan ciri-ciri seperti di atas, yaitu tua, baju compang-camping, badan kotor dan bau, maka saya langsung mengambil kesimpulan bahwa bapak tersebut pasti seorang pengemis. Kesimpulan ini saya ambil karena saya menyimpulkan bahwa semua orang dengan ciri-ciri tersebut pasti pengemis. Inilah cara berpikir induksi. 
Apabil melihat pada contoh tersebut, di mana dimulai dengan mengkaji atau meneliti atau mengamati beberapa fenomena dan mengumpulkan berbagai data yang kemudian dievaluasi untuk melahirkan sebuah kesimpulan umum. Meskipun dengan cara penarikkan kesimpulan melalui berpikir induksi dapat sah yang dianggap benar dan berlaku umum, namun kebenaran kesimpulan itu, baik berupa hukum atau teori ilmiah harus dianggap bersifat sementara. Kendati kita secara sah mendasarkan diri pada berbagai fakta yang ada untuk menarik kesimpulan yang benar, namun ini tidak dengan sendirinya menjamin bahwa kesimpulan itu benar secara mutlak. Hal ini disebabkan ciri dasar berpikir induksi adalah selalu tidak lengkap. Dalam kegiatan ilmiah, biasanya peneliti berkerja berdasarkan pengamatan dan data yang sangat terbatas. Peneliti biasanya tidak mengumpulkan semua data yang relevan, melainkan hanya beberapa data yang dianggap mewakili, karena data yang relevan jumlahnya tidak terbatas. Di satu pihak penalaran induksi memiliki persamaan dengan deduksi, yaitu kedua-duanya mendasari argumentasi-argumentasinya dari premis-premis yang mendukung kesimpulan. Perbedaan mendasarnya, argumentasi dalam penalaran induksi yang tepat akan mempunyai premis-premis yang benar, namun kesimpulannya dapat salah. Hal ini disebabkan oleh argumentasi-argumentasi dalam penalaran induksi yang tidak membuktikan bahwa kesimpulan itu benar. Premis hanya menetapkan bahwa kesimpulan berisi suatu kemungkinan, sebab premis hanya mengandung sebagain dari bukti atau data yang dibutuhkan kesimpulan. Karena itu informasi atau data yang terdapat dalam premis kurang memadai bila dibandingkan dengan informasi yang dibutuhkan kesimpulan. Akibatnya, argumentasi-argumentasi yang terdapat dalam penalaran induksi tidak dinilai sebagai valid (sahih) atau invalid (tidak sahih), melainkan berdasarkan probabilitas. Kesimpulan dari argumentasi induktif berupa pernyataan umum yang didasarkan pada premis-premis mengenai sampel-sampel khusus.  Dengan kata lain, bentuk penalaran induksi didasarkan pada sample dari banyak kasus individual. Karena itu, argumentasi induksi akan menjadi lebih kuat apabila jumlah kasus individualnya meningkat (diperbanyak).
Ciri Penalaran Induksi
  1. Premis-premis dalam penalaran induksi merupakan proposisi empiris yang berhubungan langsung dengan observasi indera. Indera menangkap dan akal menerima.
  2. Kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas dari pada apa yang dinyatakan di dalam premis-premisnya. Karena itu, pikiran tidak terikat untuk menerima kebenaran kesimpulannya. Jadi menurut kaidah-kaidah logika penalaran ini tidak sahih.
  3. Meskipun kesimpulan induksi itu tidak mengikat, akan tetapi manusia yang normal akan menerimanya, kesuali apabila ada alasan untuk menolaknya. Jadi dapat dikatakan bahwa kesimpulan induksi itu memiliki kredibilitas rasional yang disebut probabilitas.
Proses induksi dapat dibedakan menjadi generasilasi induksi, analogi induktif dan hubungan sebab akibat.
Generalisasi Induktif
Genaralisasi induktif merupakan proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala atu sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai semua. Dapat dikatakan juga sebagai bentuk penalaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat khusus atau premis ditarik kesimpulan yang bersifat umum. Prinsipnya adalah “ apa yang terjadi beberapa kali dapat diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi”. Kesimpulan dalam generalisasi itu hanya suatu harapan, kepercayaan, karena konklusi penalaran induktif tidak mengandung nilai kebenaran yang pasti, akan tetapi hanya berupa suatu probabilitas atau peluang.
ž  Contoh:
Suatu kali Budi pergi ke Bogor menggunakan travel dan berkenalana dengan seorang wanita. Wanita tersebut memperkenalkan dirinya sebagai orang Sunda yang berasal dari Ciawi. Sejak semula Budi mengamat-amati wanita tersebut dan mengakuinya secara terus terang bahwa wanita tersebut cantik dan menarik. Beberapa hari kemudian, dasar memang lagi mujur, Budi bertemu lagi dengan seorang wanita lain ketika berada di Bandung dan berkenalan. Ketika Budi bertanya asal daerahnya dan wanita tersebut mengatakan bahwa dirinya orang Sunda dari Ciawi. Pengalaman ini terjadi sampai lima kali dan kebetulan perempuan yang dijumpai Paril dengan ciri-ciri yang sama berasal dari Ciawi dan keturunan Sunda. Budi mengakui bahwa semua wanita itu cantik dan menarik. Budi pun berkesimpulan bahwa “Semua wanita Ciawi dan keturunan Sunda itu cantik dan menarik”.
Menarik kesimpulan seperti contoh tersebut adalah melakukan generalisasi berdasarkan fakta-fakta tunggal yang diamati atau dialami.

Syarat Generalisasi yang Harus Diperhatikan
  1. Generasilasi tidak terbatas secara numerik. Artinya generalisasi tidak boleh terikat pada jumlah tertentu.
  2. Generalisasi tidak terbatas secara “spasio-temporal”. Artinya generalisasi tidak boleh terbatas dalam ruang dan waktu. Jadi berlaku di mana saja dan kapan saja.
  3. Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian. Misalnya, ada fakta bahwa anak SMA itu berbeda dengan mahasiswa. Apabila ditemukan fakta bahwa anak SMA sering membolos, mencontek saat ujian, suka tawuran dan tidak dapat diatur. Seandainya mahasiswa mempunyai sifat yang sama, maka dapat disimpulkan bahwa mahasiswa itu sama dengan anak SMA.
Analogi Induktif
Berbicara mengenai analogi adalah berbicara mengenai dua hal yang berlainan dan dua hal yang berlainan tersebut dibandingkan. Dalam melakukan pembandingan ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu Persamaan dan Perbedan.  Apabila kita membandingkan dua orang hanya melihat dari aspek persamaannya tanpa melihat perbedaan, maka timbullah analogi, yaitu persamaan di antara dua hal yang berbeda. Analogi dalam penalaran adalah analogi induktif artinya suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran  gejala khusus lainnya yang memiliki sifat-sifat esensial yang sama. Yang terpenting dalam analogi induktif adalah apakah persamaan yang dipakai sebagai dasar kesimpulan sungguh-sungguh merupakan ciri-ciri esensial yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang dikemukakan.Kesimpulan analogi induktif tidak bersifat universal melainkan khusus, walau benar bahwa tidak mungkin kesimpulan yang khusus dalam analogi itu terjadi kalao tidak berpikir bahwa hal itu terjadi dalam keseluruhan.
Prinsip dasar penalaran analogi induktif adalah “Karena hal d analog dengan a, b, c, maka apa yang berlaku bagi a, b, dan c dapat diharapkan berlaku juga untuk d.”
ž  Perhatikan contoh:
Mangga I   : kuning, besar, matang ternyata manis
Mangga II  : kuning, besar, matang ternyata manis
Mangga III : kuning, besar, matang ternyata manis
Mangga IV : kuning, besar, matang
Kesimpulannya : mangga ke IV tentu manis juga.
Analogi induktif tidak hanya menunjukkan persamaan di antara dua hal yang berbeda, tetapi juga menarik kesimpulan atas dasar persamaan. Berbeda dengan generalisasi induktif, di mana kesimpulannya selalu berupa proposisi universal, kesimpulan analogi induktif tidak selalu berupa proposisi universal, melainkan tergantung dari subyek-subyek yang dibandingkan. Subyek-subyek itu yang dapat bersifat individual, partikular maupun universal. Akan tetapi sebagai penalaran induktif, konklusinya lebih luas dari premis-premis.
Faktor Probalitas
Kebenaran kesimpulan dalam logika induktif, baik itu generalisasi maupun analogi induktif bersifat tidak pasti. Hal ini dikarenakan kebenarannya bersifat masih kemungkinan. Artinya kebenaran kesimpulan induksi selalu terkait dengan tinggi rendahnya probabilitas. Probabilitas adalah keadaan pengetahuan antara kepastian dan kemungkinan. Misalnya, kesimpulan bahwa “semua manusia akan mati” adalah kesimpulan yang pasti benar hanya jika menunjuk pada mereka yang telah mati. Namun kesimpulan itu hanya memiliki probabilitas yang tinggi jika menyangkut manusia yang masih hidup dan belum lahir. Kita tidak dapat memastikan kepastian absolut apakah orang hidup sekarang tidak akan mati atau orang yang akan lahir nanti tidak akan mati. Tinggi rendahnya probabilitas kesimpulan induktif dipengaruhi beberapa faktor, di antara faktor fakta,faktor analogi, faktor disanalogi dan faktor luas konklusi.
Faktor fakta berkenaan dengan prinsip “semakin besar jumlah fakta yang dijadikan dasar penalaran induktif, akan semakin tinggi pula probabilitas konklusinya, dan sebaliknya”. Fakta analogi berkenaan dengan prinsip “Semakin besar jumlah faktor analogi di dalam premis, akan semakin rendah probabilitas konklusinya dan sebaliknya. Yang dimaksud dalam hal ini adalah faktor kesamaan. Fakta disanologi terkait dengan prinsip “semkian besar faktor disanologi di dalam premis, akan semakin tinggi probabilitas konklusinya dan sebaliknya”. Yang dimaksud dengan faktor disanologi adalah faktor ketidaksamaan. Faktor luas konklusi terkait prinsip “Semakin luas konklusinya, semakin rendah probabilitasnya dan sebaliknya”.
Kesesatan Generalisasi/Analogi
Selain faktor-faktor obyektif sebagaimana yang telah diungkapkan, tinggi rendahnya probabilitas suatu penalaran juga dipengaruhi faktor-faktor subyektif. Faktor subyektif biasanya muncul dalam penelaran seseorang yang keberadaannya tidak disadari. Namun apabila seseorang akan menerima bahwa penyimpulannya tidak sesuai dengan kaidah-kaidah penalaran jika ia dikritik serta dikorekasi. Ketidaksesuaian dengan kaidah-kaidah penelaran akan membuat dan membawa manusia mengalamai kesesatan (fallacy).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesesatan dalam penalaran induktif, yaitu:
  1. Faktor Tergesa-gesa
  2. Faktor ceroboh
  3. Faktor prasangka
Hubungan Sebab Akibat
Prinsip umum hubungans ebab akibat menyatakan bahwa suatu pristiwa disebabkan oleh sesuatu. Hubungan sebab akibat seringkali dikaitkan bahwa keadaan yang terjadi disebabkan oleh keadaan atau kejadian lainnya. Kejadian yang lainnya disebut sebab dan yang terjadi sebagai akibat. Hubungan sebab akibat sebenarnya merupakan suatu hubungan yang intrinsik atau hubungan yang asasi dalam pengertian hubungan yang sedemikian rupa sehingga apabila satu (sebab) ada / tiada maka yang lain juga pasti ada / tiada. Hubungan sebab akibat antara peristiwa-peristiwa dapat terjadi dalam tiga pola, yaitu:
ž  Pola dari sebab ke akibat
Suatu hari saya pergi ke Mall Taman Anggrek untuk membeli sepatu. Setelah berputar-putar mengeliling berberapa toko sepatu. Ketika saya sampai di salah satu toko sepatu  dan melihat merek serta modelnya, akhirnya saya mendapatkan merek dan model sepatu sebagaimana yang saya idam-idamkan. Setelah mencocokan nomor dan mencobanya, saya membawa sepatu tersebut ke kasir. Ketika hendak membayar dan saya membuka tas, ternyata dompek saya sudah tidak ada lagi. Saya telah kecopetan dan menyebabkan dompek dan sejumlah uang yang ada untuk mebayar sepatu hilang. Anda kemudian menyimpulkan bahwa karena dompet yang berisi uang itu hilang (sebab) maka anda tidak bisa membeli sepatu yang diinginkan (akibat). Jadi “uang hilang” merupakan sebab dan “tidak jadi membeli sepatu” merupakan akibat.
ž  Pola dari akibat ke sebab
Suatu hari saya bersama rekan-rekan hendak pergi ke pantai di Bandung. Karena mobil bis yang dicarter sesak dengan penumpang, maka saya memilih menggunakan mobil pribadi di mana saya bisa mengendrainya dengan santai dan tidak berhimpitan dengan lainnya. Ketika dalam perjalanan mobil yang saya kendarai mengalami gangguan dan akhirnya mogok. Mobil mogok adalah akibat dari sesuatu, dan sesuatu itu yang menjadi sebabnya.

ž  Pola dari akibat ke akibat.
Saya buru-buru pulang ke rumah ketika dalam perjalanan perut saya mengalami mulas karena sudah saatnya jam makan siang. Dalam perjalanan pulang tersebut saya melihat jalan becek. Saat sampai di Rumah saya melihat sekitar halaman basah. Kemudian, saya teringat pakain yang saya jemur di pagi hari. Saya langsung berpikir bahwa pakaian tersebut pasti sudah basah. Pakaian menjadi basah bukan disebabkan jalanan becek dan halaman rumah yang basah, melainkan karena hujan. Kedua gejala yang terjadi tersebut, yaitu jalananan becek dan halaman rumah basah serta pakaian yang dijemur basah sama-sama merupakan akibat dari penyebab yang tidak saya pikirkan lagi, yaitu hujan yang turun. 

 Sumber: Power Point dari dosen filsafat (Dr. Raja Oloan Tumanggor, Carolus Suharyanto, Lic.Theol,  Mikha Agus Widianto, M.Pd, Bonar Hutapea, M.Si.Psi)



















  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

24 komentar:

Unknown mengatakan...

Bagus deh banyak warnanya. Semangat terus yaa...!!

ANGELIA FIONARITA 705140108 mengatakan...

bagus, blognya jelas bngt, 89 yaa :)

Khansa mengatakan...

Makasih teman-teman yang udah komen.

Unknown mengatakan...

Lengkap dan kreatif banget binar! 90 yaaa:)

Unknown mengatakan...

nice sharing! 87!:)

Khansa mengatakan...

Makasih nia.
punya kamu juga kok ;)

Anonim mengatakan...

wow lengkap abis ini blognya hahaha 86 ya :D

Khansa mengatakan...

makasih egi, makasih jeany :)

Unknown mengatakan...

Binar... semua posting2an nya binar bagus...... pertahankan yaaa kreativitasmu....... bahagia deh kalau bisa jadi seperti binar..... kreatif bangetttt..... semangat terus ya binar......... berbinar-binarlah selalu. Good luck

Unknown mengatakan...

komentar tambahan yaaa....99 for you

Khansa mengatakan...

Makasih santi. Blog kamu jga bagus bnget. Pnuh inspirasi

Unknown mengatakan...

kereeen kereen hahahahaha nilai 85 buat kamu... smangat buat golden ticket wkwkwk

Khansa mengatakan...

makasih ya piere :D

Anonim mengatakan...

hi binar ^^ blog kamu cerah sekali hihi detail juga penjelasannya. 88 buat kamu ^^

Khansa mengatakan...

Hai juga Angelica. makasih ya udah mampir :)

Valencia Berlianti mengatakan...

lucu deh nar tema dan susannya tulisannya juga lengkap dan juga bagus ada gambar-gambarnya heheh gue kasih nilai 89 ya

Unknown mengatakan...

Keren bgt bin, salut lah!! hahahahaha 90 buat kite!

Unknown mengatakan...

binarr lucu deh blognya , warna-warni kaya pelangi.. tulisannya jg lengkap 90 ya buat kamoehh

Unknown mengatakan...

lengkap dan bagus banget binaar, gue kasih 90 yaa :D

Unknown mengatakan...

bin bin.. bagus blognya..kreativ, tapi itu mousenya pusing banyak ekornyaa.. 90 buat binar..

maginda mengatakan...

postingannya bagus ada highlight di bagian pentingnya. contohnya juga sudah jelas. 90 ya

Unknown mengatakan...

woow, nice binar... 90 yaaah :D

Khansa mengatakan...

makasih ya valeenn blog kamu juga bagus bnget

Khansa mengatakan...

Christina: iya dong tin buat kita semua :D
Rezky: makasih pujiannya :D
Arida: makasih ya... ;D
Elika: Mouse bnyak ekor gpp, cinta kita gak boleh wkwkwk
Maginda: Makasih ya maginda buat aku makin semangat
Fransisca: makasih ya fransica

Posting Komentar