- Buku Pembelajaran
Filsafat untuk Perkuliahan KBK Blok Filsafat (Fakultas Psikologi Untar)
Kesesatan (fallacy/
fallacia)
A. Pengertian
Perlu diperhatikan bahwa
pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logis menyebabkan terjadinya kesesatan
atau kesalahan dalam penalaran. Kesesatan adalah suatu penalaran yang salah
yang kelihahtan memiliki kebenaran. Kesesatan adalah suatu argumen yang tidak
logis, yang menyesatkan, yang memperdaya.
Suatu kesesatan yang dilakukan
dengan maksud memperdayai disebut sofism (sophism). Jika kesesatan dipakai
karena ketidaktahuan tentang peraturan-peraturan penalaran, hal itu disebut
paralogisme.
Logika lahir salah satunya
berusaha mencoba membantah pikiran-pikiran lain dengan cara menunjukan
kesesatan penalarannya. Kesesatan penalaran ini ada yang disengaja ada pula
yang tidak disengaja. Kesesatan yang tidak disengaja muncul sebagai bukti bahwa
kemampuan berpikir manusia terbatas, atau karena ketidaksadaran pelaku itu.
Istilah kesesatan merupakan terjemahan dari fallacia atau fallacy.
Dalam percakapan sehari-hari,
kita sering mendengar ujaran – yang kalau dihayati secara logis – ternyata
tidak benar atau menyesatkan. Kesesatan berlogika ini bukan disebabkan oleh
kesalahan data atau fakta, melainkan kesalahan dalam mengambil konklusi.
Konklusi yang diambil bukan atas dasar logika atau penalaran yang sehat. Contoh
pernyataan yang menyesatkan, “Bertani itu menyehatkan, oleh karena itu, setiap
petani pasti sehat”.
Berdasarkan paparan di atas, kita
dapat menyimpulkan bahwa kesesatan merpakan suatu akibat pengambilan konklusi
yang bertentangan dengan pikiran yang logis. Soekadijo menyebutkan bahwa
kesesatan dalam penalaran dapat terjadi karena yang sesat itu disebabkan oleh
beberapa hal yang tampaknya masuk akal. Jika seeorang mengemukakan sebuah
penalaran yang sesat dan dia sendiri tidak melihatnya sebagai sesuatu
kesesatan, maka penalaran sasat seperti itu disebut paralogis. Sebaliknya, jika
penalaran yang sesat itu sengaja dilakukan untuk menyesatkan orang lain disebut
sofisme.
Ada dua
macam kesesatan, yaitu kesesatan formal dan kesesatan informal. Kesesatan
formal adalah kesalah yang terjadi akibat pelanggaran terhadap
peraturan-peraturan definisi, pembagian, konversi, obversi, silogisme kategoris
dan silogisme hipotetis. Adapun kesesatan informal atau kesesatan material
adalah kesesatan yang terjadi akibat kekacauan konotasi atau denotasi term-term
yang dipakai karena asumsi-asumsi yang salah tentang fakta, atau karena
ketidaktahuan tentang masalah yang ada.
B.
Kesesatan karena Bahasa
Bahasa pada dasarnya merupakan
seperangkat kaidah atau sistem. Sebuah bahasa pada hakikatnya unik. Tidak ada
dua bahasa yang memiliki sistem yang persis, betapa pun dekatnya rumpun atau
kerabat bahasa tersebut. Namun, kesamaan yang utama adalah bahwa bahasa pada
prinsipnya sebagai alat komunikasi yang terdiri atas lapisan fonem, morfem,
kata, frasa, klausa, kalimat dan terbesar wacana. Satuan terkecil bahasa yang
mampu mewadahi konsep secara lengkap sebenarnya kalimat. Dengan kalimatlah kita
dapat menuangkan ide, pikiran, perasaan, kehendak atau hayal sehingga dapat
dipahami oleh orang lain. Namun satuan kita dapat dijadikan lambang sebuah
konsep.
Kata-kata dalam bahasa dapat
mempunyai makna yang berbeda-beda. Sebuah kata dapat saja mempunyai makna
sebanyak lima buah jika digunakan dalam lima kalimat. Oleh karena itu, makna
sebuah kata yang sebenarnya terdapat dalam sebuah kalimat. Namun dalam kalimat
sendiri, kadang-kadang kita dapat menginterpretasikan makna lebih dari satu.
Tentu saja, semua ini akan dapat menimbulkan kesesatan.
Dalam buku Drs. Surajiyo, dkk.
Dasar-Dasar Logika, kesesatan karena bahasa dapat dibedakan atas:
1) kesesatan
karena term ekuivokal.
2) kesesatan karena aksen atau tekanan.
3) kesesatan
karena arti kiasan.
4) kesesatan karena amfiboli .
Sedangkan dalam buku Drs.Munduri
dan Rafael Raga Maran, kesesatan karena bahasa dapat dibedakan atas:
1) kesesatan karena term ekuivokal.
2) kesesatan karena tekanan.
3) kesesatan
karena komposisi.
4) kesesatan divisi/pembagian.
5) kesesatan karena
amfiboli.
1) Kesesatan karena term
ekuivokal (Fallacy of Equivocation )
Term ekuivokal yaitu term yang
dialmbangkan oleh kata yang memiliki struktur fonologis yang sama tetapi
mempunyai makna yang berbeda. Jika dalam suatu penalaran terjadi pergantian
makna dari term yang sama, maka akan menimbulkan kesesatan penalaran.
Contoh:
(1) Abadi adalah sifat
Allah
(2) Adam adalah
mahasiswa abadi
Jadi Adam adalah mahasiswa yang
memiliki sifat Allah.
2) Kesesatan karena tekanan (Fallacy
of Accent)
Maksudnya, sebuah term apabila
diucapkan dengan tekanan yang berbeda, maka maknanya pun akan berbeda. Hal
seperti ini dapat dilihat dalam bebebrapa bahasa Barat, misalnya bahasa Inggris
dan Belanda. Apabila tekanan keras pada suatu bagian (segmen) sebah kata
dipindahkan ke bagian lain, maka makna kata itu akan berubah.
Contohnya:
refuse = sampah
refuse = menolak (Inggris)
doorlopen = berjalan terus
doorlopen = menjalani (belanda)
Dalam bahasa Indonesia tidak ada
tekanan yang berfungsi untuk membedakan makna. Namun ada pula bentuk-bentuk
yang memiliki struktur fonologis yang sama tetapi merupakan dua buah kata yang
berbeda.
Contoh:
(1a) Dia itu beruang
(ber-u-ang)
(1b) Dia itu beruang (be-ru-ang)
(2a) Amir sedang memetik jambu
monyet
(2b) Amir sedang memetik
jambu/monyet (tanda / sebagai jeda)
3) Kesesatan karena komposisi
(Fallacy of Composition)
Kekeliruan berfikir karena
menetapkan sifat yang ada pada bagian untuk menyifati keseluruhannya.
Contoh:
*Setiap kapal perang telah siap tempur, maka keseluruhan angkatan laut negara
itu sudah
siap tempur.
*Mur ini sangat ringan, karena
itu mesinnya tentu ringan juga.
4) Kesesatan karena pembagian
(Fallacy of Division)
Kekeliruan berfikir karena
menetapkan sifat yang ada pada keseluruhannya, maka demikian juga setiap
bagiannya.
Contoh:
*Kompleks ini dibangun di
atas tanah yang luas, tentulah kamar-kamar tidurnya
juga luas.
*Di
perguruan tinggi para mahasiswa belajar hukum, ekonomi, filsafat, sastra,
teknik,
kedokteran, karena itu setiap mahasiwa tentulah mempelajari semua
ilmu-ilmu
tersebut.
5) Kesesatan karena Amfiboli (Fallacy
of Amphiboly)
Amfiboli akan terjadi jika sebuah
struktur kalimat mempunyai makna ganda atau bercabang. Perbedaan penfsiran itu
karena aksen atau jeda, tetapi karena pembicara atau penulis membuat kalimat
yang memang sedemikian rupa sehingga maknanya bercabang.
Contohnya:
Mahasiswa yang duduk di atas kursi yang paling belakang itu putra Pak Camat.
Membaca kalimat tersebut kita
mungkin akan menafsirkan apa yang paling belakang itu? Mahasiswanya atau
mejanya. Soekadijo memberikan contoh kalimat bahasa Inggris yang beliau kutip
dar tulisan Shakespeare, The duke yet lives that Henry shall depose. Apakah the
duke yang akan menjatukan Raja Henry atau sebaliknya Raja Henry yang akan menjatuhkan
the duke?
Jika dalam
sebuah penalaran kalimat amfiboli di dalam premis digunakan untuk arti yang
satu, sedangkan di dalam konklusi artinya berbeda, maka terjadilah kesesatan
karena amfiboli. Disini dituntut kehati-hatian pembicara atau penulis untuk
menggunakan kalimat-kalimat sejenis itu.
C.
Kesesatan Relevansi
Kesesatan relevansi timbul kalau
orang menurunkan suatu kesimpulan yang tidak relevan dengan premisnya, artinya
secara logis kesimpulan tidak terkandung atau tidak merupakan implikasi dari premisnya. Kesesatan
Relevansi adalah sesat pikir yang terjadi karena argumentasi yang diberikan
tidak tertuju kepada persoalan yang sesungguhnya tetapi terarah kepada kondisi
pribadi dan karakteristik personal seseorang (lawan bicara) yang sebenarnya
tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi argumennya. Kesesatan
ini timbul apabila orang menarik kesimpulan yang tidak relevan dengan premis
nya. Artinya secara logis kesimpulan tersebut tidak terkandung dalam/ atau
tidak merupakan implikasi dari premisnya.
Jadi penalaran yang mengandung
kesesatan relevansi tidak menampakkan adanya hubungan logis antara premis dan
kesimpulan, walaupun secara psikologis menampakkan adanya hubungan - namun
kesan akan adannya hubungan secara psikologis ini sering kali membuat orang
terkecoh.
Kesesatan relevansi timbul jika
orang menurunkan suatu konklusi yang tidak relevan dengan premisnya. Maksudnya,
secara logis konklusi tidak terkandung atau tidak merupakan imflikasi dari
premisnya. Soekadijo (1997), selanjutnya memaparkan bentuk-bentuk kesesatan
relevansi yang banyak terjadi seperti berikut ini.
1) Argumentum ad hominem
Kesesatan ini terjadi jika kita
berusaha agar orang lain menerima atau menolak sesuatu usulan, tidak
berdasarkan alasan penalaran, akan tetapi karena alasan yang berhubungan dengan
kepentingan si pembuat usul.
2) Argumentum ad
Verecundiam atau Argumentum Auctoritatis
Kesesatan ini juga disebabkan
oleh penolakan terhadap sesuatu tidak berdasarkan nilai penalarannya, akan
tetapi karena disebabkan oleh orang yang mengemukakannya adalah orang yang
berwibawa, dapat dipercaya, seorang pakar. Secara logis tentu dalam menerima
atau menolak sesuatu tidak bergantung kepada orang yang dianggap pakar.
Kepakaran, kepandaian, atau kebenaran justru harus dibuktikan dengan penalaran
yang tepat. Pepatah latin berbunyi, “Tantum valet auctoritas, quantum valet
argumentation” ; yang maknanya, ‘Nilai wibawa itu hanya setinggi nilai
argumentasinya’.
Contoh: *Apa
yang dikatakan ulama A pada kampanye itu pasti benar.
*"Saya yakin apa yang dikatakan beliau adalah baik dan benar
karena beliau adalah seorang pemimpin yang brilian, seorang tokoh yang sangat
dihormati, dan seorang dokter yang jenius"
3) Argumentum ad baculum
Baculum artinya ‘tongkat’.
Maksudnya, kesesatan ini timbul kalau penerimaan atau penolakan suatu penalaran
didasarkan atas adanya ancaman hukuman. Jika, kita tidak menyetujui sesuatu
maka dampaknya kita akan kena sanksi.kita menrima sesuatu itu karena terpaksa, karena
takut bukan karena logis.
Contoh:
Seorang anak yang belajar bukan karena ia ingin lebih pintar tapi karena kalau
ia tidak terlihat sedang belajar, ibunya akan datang dan mencubitnya.
4) Argumentum ad
misericordiam
Penalaran ini disebabkan oleh
adanya belas kasihan. Maksudnya, penalaran ini ditujukan untuk menimbulkan
belas kasihan sehingga pernyataan dapat diterima. Argumen ini biasanya
berhubungan dengan usaha agar sesuatu perbuatan dimaafkan. Misalnya, seorang
pencuri yang tertangkap basah mengatakan bahwa ia mencuri karena lapar dan
tidak mempunyai biaya untuk menembus bayinya di rumah sakit, oleh karena itu ia
meminta hakim membebaskannya.
5) Argumentum ad populum
Argumentum populum ditujukan
untuk massa. Pembuktian sesuatu secara logis tidak perlu. Yang diutamakan ialah
menggugah perasaaan massa sehingga emosinya terbakar dan akhirnya akan menerima
sesuatu konklusi tertentu. Yang seperti ini biasanya terdapat pada pidato
politik, demonstrasi, kampanye, propaganda dan sebagainya.
Contoh:
• Satu juta orang Indonesia
menggunakan jasa layanan seluler X, maka sudah pasti itu layanan yang bagus.
• Semua orang yang saya kenal
bersikap pro Presiden. Maka saya juga tidak akan mengkritik Presiden.
• Mana mungkin agama yang saya
anut salah, lihat saja jumlah penganutnya paling banyak di muka bumi.
6) Kesesatan non cause
pro cause
Kesesatan ini terjadi jika kita
menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal sebenarnya bukan sebab, atau bukan
sebab yang lengkap. Contohnya yaitu suatu peristiwa yakni Amir jatuh dari sepeda
dan meninggal dunia. Orang menyebutnya bahwa Amir meninggal dunia karena jatuh
dari sepeda. Akan tetapi menurut visum et repertum dokter, Amir meninggal dunia
karena serangan penyakit jantung.
7) Kesesatan aksidensi
Kesesatan ini terjadi jika kita
menerapkan prinsip-prinsip umum atau pernyataan umu kepada peristiwa-peristiwa
tertentu yang karena keadaanya yang bersifat aksedential menyebabkan penerapan
itu tidak cocok. Contohnya, seseorang member susu dan buah-buahan kepada
bayinya meskipun bayi itu sakit, dengan pengrtian bahwa susu dan buah-buahan
itu baik bagi bayi, maka si ibu itu melakukan penalaran yang sesat karena
aksidensinya. Contoh lain, yaitu makan itu pekerjaan yang baik. Akan tetapi
jika kita makan ketika berpuasa, maka penalaran kita sesat karena aksidensi.
8) Kesesatan karena
komposisi dan devisi
Ada predikat-predikat yang hanaya
mengenai individu-individu suatu kelompok kolektif. Kalau kita menyimpulkan
bahwa predikat itu juga berlaku untuk kelompok kolektif seluruhnya, maka
penlaran kita sesat karena komposisi. Misalnya, ada beberapa anggota-anggota
polisi yang menggunakan senjatanya untuk menodong, kita simpulkan bahwa korps
kepolisian itu terdiri atas penjahat. Sebaliknya, jika ada predikat yang
berlaku untuk kelompok kolektif dan berdasarkan hal itu disimpulkan bahwa
setiap anggota dari kelompok kolektif itu tentu juga menyandang predikat itu,
maka penalaran itu sesat karena devisi.
9) Kesesatan karena
pertanyaan yang kompleks
Sebuah pertanyaan atau perintah,
sering kali bersifat kompleks yang dapat dijawab oleh lebih dari satu
pernyataan, meskipun kalimatnya sendiri tunggal. Contohnya, jika ada
pertanyaan, “Coba sebutkan macam-macam kalimat!”, maka jawabannya anatara lain:
Kalimat tunggal dan kompleks ; kalimat berita, perintah, dan pertanyaan ;
kalimat aktif dan pasif ; kalimat susun normal dan inversi.
10) Argumentum ad
ignorantum
Argumentum ad ignorantum adalah
penalaran yang menyimpulkan suatu konklusi atas dasar bahwa negasinya tidak
terbukti salah, atau yang menyimpulkan bahwa sesuatu konklusi itu salah karena
negasinya tidak terbukti benar. Contohnya, jika kita menyimpulkan bahwa mahluk
“berbadan halus” itu tidak ada karena tidak dapat kita lihat, hal ini sama saja
dengan pernyataan bahwa di Kepulauan Paskah tidak ada piramida karena kita
tidak mengetahui adanya piramida di sana.
Banyak dari kesesatan-kesesatan
relevansi diidentifikasikan oleh para pakar logika abad pertengahan dan
renaisans. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau nama-nama Latin dipakai
untuk kesesatan-kesesatan yang dimaksud.
D. Rasionalitas Kesesatan
Istilah “fallacy” uang kita
Indonesiakan dengan “kesesatan” adalah istilah yang sudah mapan dalam logika,
akan tetapi sebenarnya dapat menyesatkan. Dalam hal ini harus diperhatikan
bahwa ada implikasi logis, implikasi definisional, kausal atau empirik, dan
intensional. Penalaran yang berdasarkan implikasi logis tidak sahih, mungkin
dapat di susun demikian rupa sehingga mengandung implikasi kausal, misalnya.
Dan berdasarkan implikasi kausal ini mungkin penalaran itu sahih.
Sumber:
- http://miftakhulhuda.wordpress.com/2009/12/07/kesesatan-fallacy-fallacia/
- http://bisril-corner.blogspot.com/2011/07/kesesatan-penalaran-fallacy.html
8 komentar:
isi materinya udah lengkap, sangat membantu. kalau bisa, dibuat lebih rapi lagi ya penulisannya. 85 deh buat blog ini
Lengkap bgt bin, keren, kece pkoknyaa :) Nilainya 90 buat lu wihiy
Materinya lengkap,kreatif
85 ya nilainya
Makasih teman2 komen, saran n nilainya
bagussss blognya binar 88 yaa buat kamu
wahhh, mudah dimengerti deh heheh. 90 yah :D
lengkap bangett 88 yaaa
waahhh makasih ya tasya, makasih Fransisca, makasih Cresentia. aku sayang kalian semua
Posting Komentar