Dalam kehidupan sehari-hari
sering kita mendengarkan ungkapan: “meskipun kebenaran itu mahal harganya saya
akan tetap menegakkannya”. “Saya rela mati untuk membela kebenaran” Pernyataan
tersebut menyiratkan bahwa kebenaran itu sangatlah penting dan berharga bagi
kita. Tetapi apakah sungguh ada kebenaran itu? Kalo ada, apakah sesungguhnya
kebenaran itu? Apakah kebenaran itu bersifat subyektif atau obyektif dan
universal? Dapatkah manusia mencapai kebenaran yang obyektif dan universal? Bagaimana
kita dapat tahu bahwa sesuatu itu merupakan kebenaran? Untuk menilai sifat atau kualitas dari suatu proposisi (pernyataan) atau makna/isi pernyataan digunakan istilah benar – salah. Pengetahuan bisa dinilai benar atau salah, karena pengetahuan pada dasarnya merupakan gabungan dan perpaduan dari sistim pernyataan. Konsep tidak dapat dinilai benar atau salah, betul atau keliru. Konsep hanya bisa dinilai jelas dan terpilah atau kabur, memadai atau tidak memadai. Persepsi tidak dapat disebut benar atau salah. Yang bisa disebut benar atau salah adalah isi pernyataan tentang apa yang dipersepsikannya. Yang bisa benar atau salah adalah orang yang mepersepsikannya.
Kebenaran sebagai sifat
pengetahuan disebut kebenaran epistemologis. Lawan dari kebenaran adalah salah.
Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang
dipirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya. Suatu
pengetahuan atau pernyataan di sebut benar jika sesuai dengan kenyataan. Dengan
demikian, kenyataan menjadi suatu ukuran penentu penilaian. Kata Yunani untuk
kebenaran adalah alètheia. Pengertian Plato tentang kebenaran secara
etimologi bahwa alètheia berarti “ketaktersembunyiaan adanya” atau
“ketersingkapan adanya”. Menurut Plato bahwa selama kita terikat pada “yang
ada” dan tidak masuk pada “adanya dari yang ada”, kita belum berjumpa dengan
kebenaran, karena “adanya” itu masih tersembunyi. Baru ketika selubung yang
menutupi itu “semua yang ada” itu disingkapkan sehingga terlihat oleh mata
batin kita, maka terbukalah “adanya” atau bertemulah kita dengan kebenaran. Kebenaran
dalam konsep Plato dimengerti sebagai terletak pada obyek yang diketahui, atau
pada apa yang dikejar untuk diketahui. Menurut Plato bahwa kebenaran sebagai
ketidaktersembunyiaan adanya itu tidak dapat dicapai manusia selama hidupnya di
dunia ini. Berbeda dengan Plato, Aristoteles dalam memahami kebenaran lebih
memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu
ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif. Ada
tidaknya kebenaran dalam putusan yang bersangkutan bersifat afirmatif
(menegaskan atau menguatkan) (S itu P) atau negatif (S itu bukan P) itu
tergantung pada apakah putusan yang bersangkutan sebagai pengetahuan dalam diri
subyek penahu itu sesuai atau tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam hal ini
kebenaran dimengerti sebagai kesesuaian antara subyek si penahuu dengan obyek
yang diketahui. Menurut kaum Positivisme Logis bahwa kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran
faktual dan kebenaran nalar. Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang
ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia (yang
biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara inderawi). Misalnya bumi
bulat sebagai pernyataan yang memiliki kebenaran faktual atau tidak, pada
prinsipnya harus bisa diuji kebenarannya berdasarkan pengamatan inderawi. Kebenaran
nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan
tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana
yang berdaya guna untuk memperoleh pengatahuan yang benar tentang dunia ini. Kebenaran
nalar dapat membantu untuk memperoleh kebenaran faktual. Kebenaran nalar
sebagai kebenaran yang terdapat dalam logika dan matematika. Kebenarannya di
dasarkan pada penyimpulan deduktif. Kebenaran
nalar berbeda dengan kebenaran faktual yang bersifat nisbi (hanya terlihat
ketika dibandingkan dengan yang lain, tidak mutlak dan relatif) dan mentak
(mungkin, belum pasti), sedangkan kebenaran nalar bersifat mutlak dan
tidak niscaya (tentu, pasti). Selain kedua jenis kebenaran yang diungkapkan oleh kaum Positivis Logis, mengikuti
Thomas Aquinas, maka kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran
Ontologis (Veritas Ontologica) dan kebenaran Logis (Veritas
Logica). Kebenaran ontologis merupakan kebenaran yang terdapat dalam
kenyataan, entah spritual atau material, yang meskipun ada kemungkinan untuk
diketahui. Misalnya: kebenaran tentang adanya segala sesuatu
sesuai hakikatnya, kebenaran tentang adanya Tuhan, kebenaran tentang keabdian
jiwa. Kebenaran logis sebagai kebenaran yang terdapat dalam akal budi
manusia si penahu, dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan
kenyataan.- Sikap terburu-buru dan kurang perhatian dalam salah satu tahap atau keseluruhan proses kegiatan mengetahui
- sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap terlalu gegabah dalam melangkah. Sikap yang pertama menyebabkan orang menganggap belum cukup bukti untuk dapat menerima kebenaran padahal sebenarnya sudah cukup, sedangkan sikap yang kedua terlalu cepatr merasa cukup menegfaskan benar atau salah, padahal belum cukup bukti.
- Kerancuan atau kebingungan akibat emosi, frustasi, perasaan yang entah mengganggu konsentrasi atau membuat kurang terbuka terhadap bukti-bukti yang tersedia.
- Prasangka dan bias-bias, baik individu maupun sosial.
- Keliru dalam penalaran atau tidak mematuhi aturan-aturan logika.






9 komentar:
Wow, really good job binar. 90 ok
Bnar blognya lengkap bgt, keren oy.. 90 ya bin :)
Waah blognya keren. Sip bnget deh
Makasih teman-teman
Sudah lengkap nih binar..88 ya
makasih ya nia. baik banget deh :)
isinya lengkap :) 88 ya
makasih maginda
Binar blognya bagus, materinya lengkap deh.nilainya 90 yah ;)
Posting Komentar